Faktakalbar.id, NASIONAL – Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat sebanyak 20 kejadian bencana di berbagai wilayah di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, enam di antaranya tergolong sebagai bencana dengan dampak signifikan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.
Tanah longsor melanda Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 11 kepala keluarga (42 jiwa) terdampak akibat longsor.
Baca Juga: BNPB Catat Banjir dan Karhutla Terjadi di Sejumlah Wilayah Indonesia pada Pertengahan Juni 2025
Upaya relokasi sedang dilakukan oleh pihak terkait guna menghindari risiko lanjutan.
Angin kencang menerjang Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, mengakibatkan kerusakan pada 22 rumah warga.
Rinciannya, satu rumah mengalami kerusakan berat, satu rusak sedang, dan 20 rumah lainnya rusak ringan. Saat ini, kondisi dinyatakan telah terkendali.
Ketiga, banjir bandang terjadi di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, berdampak pada 40 kepala keluarga (sekitar 120 jiwa) dan merusak 40 rumah. Air sudah surut dan warga mulai melakukan pembersihan lingkungan secara mandiri.
Di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, banjir masih berdampak pada 2.973 kepala keluarga (11.712 jiwa).
Sebanyak 2.988 rumah tercatat terdampak, meski air mulai surut.
Sementara itu, banjir rob di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berdampak pada 200 kepala keluarga dan merendam 160 rumah dengan ketinggian air 5–20 sentimeter.
Baca Juga: BNPB Serahkan 5.880 Bibit Pohon untuk Pemulihan Pascabencana di Kabupaten Purworejo
Pemerintah daerah saat ini tengah memproses perpanjangan status siaga darurat.
Di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, gerakan tanah terus berlangsung, mempengaruhi 83 kepala keluarga (256 jiwa).
Sebanyak 47 kepala keluarga (145 jiwa) mengungsi mandiri, sementara 31 kepala keluarga (95 jiwa) mengungsi terpusat.
Total 69 rumah mengalami kerusakan. Status tanggap darurat telah ditetapkan, dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi terus diupayakan.
Prakiraan Cuaca dan Potensi Bencana Dua Hari ke Depan
Berdasarkan prakiraan cuaca, dalam dua hari ke depan (18-19 Juni 2025), beberapa wilayah di Indonesia diperkirakan akan mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat.
Di wilayah Sumatera bagian barat (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat), hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang diprediksi terjadi.
Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di sebagian wilayah Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur), terutama sore hingga malam hari.
Untuk wilayah Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur), diperkirakan terjadi hujan sedang hingga lebat di daerah hulu sungai.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Picu Bencana di Beberapa Daerah, BNPB Ajak Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Di Sulawesi (Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan), hujan ringan hingga sedang diprediksi terjadi di wilayah pesisir dan pegunungan.
Di Maluku dan Papua (Papua Barat dan Papua pegunungan), potensi hujan sedang hingga lebat disertai cuaca ekstrem lokal cukup tinggi.
Sebaliknya, wilayah selatan Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Bali, dan sebagian Nusa Tenggara Barat (NTB) diprediksi cerah berawan hingga berawan, dengan suhu udara tinggi dan kelembapan rendah, meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Angin timuran kering mulai mendominasi di wilayah ini, menurunkan peluang hujan.
Imbauan BNPB kepada Masyarakat
BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang, khususnya di wilayah yang diprediksi mengalami hujan lebat.
“Monitoring Daerah Aliran Sungai (DAS), pembersihan saluran air, selokan, anak sungai hingga irigasi perlu dilakukan secara berkala. Untuk daerah lereng dan tebing, perhatian lebih harus diberikan untuk mengantisipasi gerakan tanah dan longsor,” terang BNPB.
Selain itu, untuk menghadapi potensi karhutla, BNPB menekankan pentingnya peningkatan patroli titik api dan pemadaman dini di wilayah rawan.
Jalur evakuasi, logistik, dan sarana penanganan darurat harus dipastikan siap pakai.
Masyarakat juga diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi pemerintah dan segera melapor jika terjadi situasi darurat.
Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat sangat penting dalam mewujudkan penanganan bencana yang cepat, tepat, dan terorganisir.
Baca Juga: BNPB: Cuaca Ekstrem dan Banjir Dominasi Bencana di Sejumlah Wilayah Indonesia
















