Review Film Avatar Fire and Ash: Visual Luar Biasa untuk Cerita yang Terlalu Biasa
Faktakalbar.id, LIFESTYLE
- Sean Burns mengakui rasa hormatnya terhadap ambisi dan inovasi teknis yang dilakukan James Cameron dalam membangun jagat
Avatar
. Menurutnya,
Hollywood
membutuhkan sosok visioner yang berani menciptakan alam semesta dari imajinasi murni daripada sekadar mendaur ulang komik atau waralaba lama.
Namun, Burns secara jujur menyebut film tersebut sangat membosankan. Ia mengkritik estetika "hiper-luas" dan desain Na'vi yang menurutnya kurang menarik.
Lebih jauh, ia menilai Cameron masih terjebak dalam kiasan film Barat klasik tentang pendatang yang
"menyatu dengan alam"
dan memimpin pemberontakan melawan sekutu kolonialnya sendiri.
Kehadiran Varang: Angin Segar di Pandora
Satu elemen yang paling menonjol dalam
Fire and Ash
adalah karakter
Varang
, pemimpin klan
Ash People
yang haus darah. Karakter ini diperankan dengan luar biasa (melalui
motion capture
) oleh
Oona Chaplin
.
Performa yang Kuat
: Chaplin membawa fisik yang liar dan energi dewasa yang belum pernah ada sebelumnya di planet Pandora yang biasanya terlihat "suci".
Dinamika dengan Quaritch
: Varang menjalin hubungan psikologis yang intens dengan Quaritch (Stephen Lang), yang kini berada dalam tubuh Na'vi.
Memecah Binari
: Kehadiran Varang merusak batasan sederhana antara penjajah manusia yang rakus dan penduduk asli Pandora yang cinta damai, menjadikannya sesuatu yang lebih menarik bagi penonton dewasa.
Baca Juga:
Film Avatar: Fire and Ash Dapat Ulasan Rendah
Kembali ke Formula Lama
Terlepas dari awal yang menjanjikan, Burns menyayangkan keputusan film ini untuk "meninggalkan" karakter Varang di tengah cerita. Fokus narasi kemudian kembali ke keluarga Sully yang menggalang flora dan fauna untuk melawan pasukan manusia.
Pengulangan Cerita
: Film ini dianggap kembali menjadi pengulangan dari dua film sebelumnya, kali ini lengkap dengan paus yang berkomunikasi secara psikis.
Referensi Mandiri
: James Cameron menggunakan kembali elemen aksi dari film-film populernya terdahulu seperti
Titanic
,
True Lies
, dan
Terminator 2
ke dalam pemandangan buatan Pandora.
Kritik Visual
: Burns mencatat bahwa penggunaan
high frame rate
membuat pemandangan Pandora terlihat seperti layar demonstrasi TV di toko elektronik.
Teknologi vs Kedalaman Drama
Burns juga menyinggung dokumenter di Disney+ berjudul
Fire and Water: Making the Avatar Films
yang menunjukkan kerja keras para aktor di dalam tangki air raksasa.
Meskipun kagum dengan upaya teknis tersebut, Burns mempertanyakan apakah semua kerumitan itu sepadan dengan hasil performa yang ditampilkan di layar.
Ulasan ini ditutup dengan kesimpulan bahwa bagi sebagian besar penonton dunia, mengunjungi Pandora adalah pengalaman ajaib, namun bagi Burns, film ini tetaplah sebuah pengulangan yang belum mampu memberikan kepuasan dramatis yang baru.
(*Red)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.