faktakalbar

Peringatan BMKG: Tren Gempa Meningkat, Megathrust Ancam RI

Penulis: Redaksi Wednesday, 22 January 2025 📖 2 menit
Peringatan BMKG: Tren Gempa Meningkat, Megathrust Ancam RI
JAKARTA -  Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa kejadian gempa di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Hal ini semakin menguatkan ancaman potensi gempa besar dari zona megathrust yang dapat memicu tsunami raksasa. Dalam webinar bertajuk "Resolusi 2025: Mitigasi Bencana Geologi" yang digelar oleh Teknik Geofisika ITS pada Jumat (17/1/2025), Dwikorita menyebutkan bahwa Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng utama dunia—Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia—dengan 14 segmen sumber gempa subduksi/megathrust serta 402 segmen sumber gempa sesar aktif yang telah teridentifikasi. “Berdasarkan data jangka panjang, rata-rata kejadian gempa pada tahun 1990–2008 sekitar 2.254 gempa per tahun. Namun, mulai 2018, jumlahnya melonjak menjadi 12.000 lebih, bahkan mencapai 29.869 gempa pada 2024,” jelas Dwikorita, Selasa (21/1/2025). Dwikorita menjelaskan bahwa gempa dangkal mendominasi tren peningkatan aktivitas tektonik, dan semakin banyak patahan aktif di darat menjadi sumber gempa. Ia juga mencatat 20 kejadian gempa merusak pada 2024, menambah jumlah total gempa merusak menjadi 119 kali dalam lima tahun terakhir (2018–2023). “Kami mencatat tren gempa dangkal meningkat, dan dampaknya semakin besar karena banyak yang terjadi di wilayah darat,” katanya. BMKG juga mengingatkan ancaman megathrust di beberapa wilayah seperti Selatan Banten, Selat Sunda, dan Mentawai-Siberut. Zona-zona ini sudah lama tidak melepaskan energi sejak abad ke-18, sehingga menjadi area seismic gap yang perlu diwaspadai. “Kami telah menyiapkan skenario model gempa megathrust, termasuk simulasi tsunami setinggi 10 hingga 20 meter di Selat Sunda. Peta-peta skenario ini telah kami serahkan ke pemerintah daerah dan pihak terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” ungkap Dwikorita. BMKG telah meningkatkan jumlah sensor pemantau gempa dari hanya 20 unit pada 2004 menjadi 550 unit pada 2024. Peningkatan ini bertujuan mempercepat sistem informasi dini gempa dan tsunami. Meski demikian, Dwikorita menegaskan bahwa lonjakan data gempa bukan semata hasil dari bertambahnya alat, melainkan tren peningkatan aktivitas tektonik yang nyata. Selain memperkuat teknologi, Dwikorita menekankan pentingnya edukasi masyarakat untuk mitigasi bencana. Ia meminta semua pihak, terutama pemerintah daerah, untuk serius menyiapkan langkah-langkah kesiapsiagaan. “Kami tidak hanya fokus pada deteksi dini, tetapi juga edukasi masyarakat tentang mitigasi bencana, baik untuk gempa, tsunami, maupun bencana ikutan lainnya,” pungkasnya. Dengan tren peningkatan ini, Dwikorita mengingatkan semua pihak untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri terhadap kemungkinan terjadinya gempa besar dan dampaknya.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK