Penyebab Helikopter Karhutla Jatuh di Sungai Barito Diusut, Keselamatan Operasi Disorot
Faktakalbar.id - Pihak berwenang memulai proses penyelidikan untuk menguatkan penyebab jatuhnya helikopter pemadam kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) berjenis Super Puma di perairan Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Faktakalbar.id - Pihak berwenang memulai proses penyelidikan untuk menguatkan penyebab jatuhnya helikopter pemadam kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) berjenis Super Puma di perairan Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Penyelidikan teknis difokuskan pada penyebab hilangnya kestabilan pesawat berregistrasi VH-HGM tersebut usai melakukan manuver pengambilan air pada Minggu (8/11/2026) siang.
Insiden penerbangan ini memicu evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan armada udara penanggulangan bencana di kawasan Kalimantan.
Tim Basarnas Kelas A Banjarmasin beserta aparat kepolisian dan otoritas penerbangan telah mengamankan bangkai helikopter di tepian perairan Desa Tabatan Baru.
Meskipun tiga kru helikopter asal Australia, Selandia Baru, dan Indonesia dinyatakan selamat, investigasi penyebab kecelakaan tetap diprioritaskan.
Faktor kondisi angin, beban kargo air, hingga keandalan mesin helikopter sewaan BNPB tersebut bakal diperiksa secara komprehensif oleh tim ahli.
"Penyebab kejadian masih memerlukan pemeriksaan dan investigasi oleh pihak berwenang," kata petugas penanganan di lapangan.
Hasil analisis rekaman video amatir warga di sekitar tempat kejadian perkara dijadikan salah satu bukti awal dalam pengungkapan kasus kecelakaan ini.
Pemeriksaan dokumen kelaikan terbang serta rekam jejak perawatan berkala helikopter Super Puma tersebut turut diagendakan.
Penyelenggaraan operasi pemadaman Karhutla lewat udara di kawasan Kalimantan Selatan dipastikan tetap memperhatikan faktor keselamatan penerbangan.
Otoritas terkait mendesak proses audit kelayakan fisik seluruh unit armada penanggulangan karhutla yang tengah beroperasi.
Temuan dari tim investigasi penerbangan nantinya akan dipublikasikan sebagai panduan perbaikan prosedur penanganan bencana.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.