faktakalbar

Masyarakat Resah, Bank Indonesia Harus Gencar Sosialisasi Cegah Peredaran Uang Palsu

Penulis: Redaksi Saturday, 28 December 2024 📖 2 menit
Masyarakat Resah, Bank Indonesia Harus Gencar Sosialisasi Cegah Peredaran Uang Palsu
JAKARTA- Anggota DPR RI Charles Meikyansah merespon kekhawatiran masyarakat terhadap maraknya peredaran uang palsu, terutama pasca terungkapnya sindikat uang palsu di UIN Alauddin, Makassar. Ia mendesak Bank Indonesia (BI) untuk memperketat pengawasan dan meningkatkan sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat.   "Melihat kasus tersebut, banyak masyarakat khawatir peredaran uang palsu. Apalagi marak juga terjadi masyarakat mendapat uang palsu. Maka Bank Indonesia harus dapat meningkatkan upaya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara membedakan uang asli dan palsu," kata Charles Meikyansah, Jumat (27/12).   Menurut Charles, sosialisasi tentang ciri-ciri uang rupiah asli, seperti efek safeting color dan mikroteks, harus dilakukan secara intensif. “Edukasi yang efektif dapat membantu masyarakat lebih waspada dan mengurangi kemungkinan menerima uang palsu dalam transaksi sehari-hari,” tambahnya.   "BI juga harus memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat mengenai langkah-langkah yang harus diambil jika mereka menemukan atau menerima uang palsu. Apakah melapor ke kantor cabang BI terdekat atau seperti apa,” imbuh Charles.   Charles menekankan pentingnya pemahaman masyarakat untuk mengurangi kerugian akibat uang palsu. “Kalau perlu ada upaya jemput bola yang dilakukan BI. Kasihan kalau masyarakat kecil yang menerima uang palsu. Mungkin buat yang berkecukupan uang Rp 100 atau Rp 50 ribu tidak seberapa, tapi buat mereka yang kekurangan kan itu besar sekali,” ungkap Legislator dari dapil Jawa Timur IV itu.   Ia mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan metode 3D (dilihat, diraba, diterawang) saat menerima uang fisik, sesuai anjuran Bank Indonesia. Charles juga mendorong pekerja yang sehari-harinya berhubungan dengan transaksi jual-beli untuk mengikuti edukasi terkait deteksi uang palsu.   Anggota Komisi Keuangan DPR ini juga mengajak masyarakat yang merasa kesulitan membedakan uang palsu untuk datang ke kantor cabang BI terdekat. "Bank Indonesia dapat membantu untuk melihat apakah uang yang dimiliki masyarakat itu asli atau tidak karena mereka memiliki Counterfeit Analysis Center yang dilengkapi tenaga ahli," lanjutnya.   Charles meminta BI untuk terus melakukan pengawasan yang efektif, berkoordinasi dengan kepolisian dan lembaga terkait lainnya, serta mengevaluasi elemen keamanan pada uang kertas yang beredar. Ia menekankan pentingnya peningkatan teknologi pencetakan dan desain uang baru untuk mencegah pemalsuan.   Kasus uang palsu di UIN Makassar semakin memperkuat pentingnya pengawasan, dengan adanya penangkapan 17 orang termasuk oknum kampus dan pegawai bank BUMN. "Produksi uang palsu ini tidak hanya berpotensi merugikan perekonomian, tetapi juga menciptakan keresahan di masyarakat," kata Charles.   Kasus tersebut juga melibatkan pemalsuan mata uang asing seperti won Korea Selatan dan dong Vietnam. "Pemerintah dan penegak hukum serta stakeholder terkait seperti BI harus berhati-hati dengan sindikat-sindikat ini, karena bisa jadi ada kemungkinan keterlibatan pelaku internasional," pungkasnya.(rfn)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK