KSSK Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,4–5,5 Persen pada 2026
KSSK merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,4–5,5 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 5,6–6,0 persen.
Faktakalbar.id - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada di kisaran 5,4–5,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yang berada pada rentang 5,6–6,0 persen.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan perubahan proyeksi tersebut dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
“Ekonomi Indonesia di tahun 2026 diprakirakan tumbuh di sekitar 5,4–5,5 persen year-on-year,” ujar Suahasil.
Meski memperkirakan pertumbuhan lebih rendah, KSSK menilai perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2026 juga diperkirakan tetap kuat, terutama ditopang oleh permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif.
Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang Ekonomi
KSSK menyebut konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut didukung oleh berlanjutnya berbagai stimulus fiskal pemerintah.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga terus dioptimalkan untuk menjaga daya beli masyarakat melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan, serta program penciptaan lapangan kerja.
Dari sisi investasi, pertumbuhan diperkirakan tetap kuat seiring berlanjutnya proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah.
Sementara itu, konsumsi pemerintah turut didukung oleh percepatan belanja negara dan penyaluran bantuan sosial.
Pada sektor eksternal, kinerja ekspor nonmigas masih menunjukkan perkembangan positif, didukung kenaikan harga dan permintaan komoditas ekspor.
PMI Manufaktur Naik ke Level 54
Sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan aktivitas domestik masih berada dalam fase ekspansi.
KSSK mencatat penjualan mobil pada September 2026 tumbuh 28,1 persen secara tahunan. Penjualan sepeda motor pada periode yang sama meningkat 15,4 persen.
Selain itu, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik dari kisaran 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026.
PMI di atas angka 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam zona ekspansi. Kenaikan indeks tersebut mencerminkan perbaikan aktivitas industri dibandingkan bulan sebelumnya.
Tekanan Global Masih Membayangi Perekonomian
Di tengah prospek pertumbuhan domestik, KSSK tetap mencermati sejumlah risiko eksternal yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
Tekanan tersebut antara lain berasal dari meningkatnya konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi global, kebijakan moneter negara maju yang cenderung ketat, serta terbatasnya aliran modal ke negara berkembang.
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik juga meningkat pada Oktober 2026. KSSK menyoroti mengetatnya likuiditas, perkembangan pasar saham setelah pengumuman MSCI, serta meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah seiring arus modal keluar dari pasar saham.
Pada 2 November 2026, nilai tukar rupiah tercatat Rp18.145 per dolar AS atau melemah 0,11 persen dibandingkan posisi akhir Oktober.
Meski demikian, cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 masih tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor.
KSSK Perkuat Sinergi Kebijakan
Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan, KSSK berkomitmen memperkuat koordinasi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Sinergi tersebut diarahkan untuk mengantisipasi dampak gejolak global, menjaga stabilitas nilai tukar, serta mendukung pembiayaan bagi sektor riil.
KSSK juga menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dan Danantara melalui pendekatan Two Arms of the State untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Melalui koordinasi tersebut, pemerintah dan otoritas keuangan berharap ketahanan sistem keuangan tetap terjaga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.