faktakalbar

Kemenag Gagas Gerakan Bersarung Sepekan Sekali bagi ASN

Kemenag menggagas gerakan bersarung dan berpeci sepekan sekali bagi ASN. Simak usulan Selasa Bersarung dan tujuan pelestarian budaya Nusantara.

Penulis: Clara Sunday, 25 October 2026 📖 2 menit
Kemenag Gagas Gerakan Bersarung Sepekan Sekali bagi ASN
Kemenag menggagas gerakan bersarung dan berpeci sepekan sekali bagi ASN. Simak usulan Selasa Bersarung dan tujuan pelestarian budaya Nusantara. (dok.ist)

Faktakalbar.id - Kementerian Agama (Kemenag) menggagas gerakan mengenakan sarung dan peci satu kali dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN). Inisiatif ini bertujuan melestarikan budaya Nusantara sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap tradisi bangsa.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan gagasan tersebut saat membuka Festival Sarung dan Peci Santri 2026 di halaman Kantor Kementerian Agama, Jakarta. Kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026.

Nasaruddin berharap penggunaan sarung dan peci dapat menjadi kebiasaan rutin di lingkungan Kemenag. Menurutnya, pakaian tradisional tersebut bukan sekadar busana, melainkan bagian dari perjalanan sejarah dan identitas masyarakat Indonesia.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa gagasan tersebut tidak harus menjadi kewajiban. Pelaksanaannya dapat berupa anjuran yang mempertimbangkan kondisi, kenyamanan, serta kebutuhan pegawai dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Kemenag Usulkan Gerakan Selasa Bersarung

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Direktur Jenderal Pesantren Kemenag, Basnang Said. Ia mengusulkan gerakan bertajuk “Selasa Bersarung” sebagai langkah konkret untuk membiasakan penggunaan sarung di lingkungan kerja, khususnya Direktorat Jenderal Pesantren.

Basnang menyebutkan, penggunaan sarung satu hari dalam lima hari kerja dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap tradisi pesantren yang selama ini berperan dalam menjaga kelestarian budaya Nusantara.

Hari Selasa dipilih sebagai usulan karena sarung dinilai cocok dipadukan dengan pakaian kerja berwarna putih yang biasa dikenakan pegawai.

Namun, rencana tersebut masih berupa usulan dari Direktorat Jenderal Pesantren yang memerlukan persetujuan lebih lanjut dari Menteri Agama.

Sarung dan Peci Dinilai sebagai Identitas Budaya Bangsa

Nasaruddin menjelaskan bahwa sarung memiliki nilai sosial yang mencerminkan kebersamaan, kesetaraan, dan kebebasan. Penggunaannya juga melintasi berbagai kelompok masyarakat sehingga menjadi bagian dari tradisi yang inklusif.

Sementara itu, peci dinilai memiliki makna kehormatan, kewibawaan, dan identitas kebangsaan. Penggunaannya tidak terbatas pada lingkungan keagamaan, tetapi juga telah menjadi bagian dari busana nasional dalam berbagai kegiatan kenegaraan.

Indonesia juga memiliki beragam jenis sarung dan penutup kepala tradisional yang mencerminkan kekayaan budaya setiap daerah. Sarung Samarinda, sarung Bugis, sarung batik, serta berbagai kain tenun menjadi contoh warisan budaya yang memiliki motif dan karakteristik tersendiri.

Melalui gerakan ini, Kemenag berharap masyarakat tidak hanya mengenakan busana tradisional, tetapi juga memahami nilai sejarah dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Kemenag Ingin Tradisi Pesantren Tetap Relevan

Basnang Said menilai penggunaan sarung dan peci tidak seharusnya dikaitkan dengan keterbelakangan atau dianggap bertentangan dengan modernitas.

Menurutnya, kemajuan seseorang tidak ditentukan oleh pakaian yang dikenakan, melainkan oleh keluasan pengetahuan, kualitas pemikiran, dan kontribusinya kepada masyarakat.

Tradisi pesantren, termasuk penggunaan sarung dan peci, memiliki nilai yang dapat terus diwariskan tanpa menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karena itu, gagasan Selasa Bersarung diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat identitas budaya di lingkungan kerja sekaligus menjaga warisan tradisi pesantren.

Kemenag menilai pelestarian budaya dan kemajuan bangsa dapat berjalan beriringan. Dengan mengenalkan kembali tradisi dalam kehidupan sehari-hari, generasi muda diharapkan tetap memiliki kebanggaan terhadap budaya Indonesia di tengah perubahan zaman.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK