Kapolresta Pontianak Ditenggarai Mengkoordinir OTK Serang Mahasiswa Di Aksi Demonstrasi Gelombang Pertama
Rekaman video saat demonstrasi mahasiswa di Kantor Gubernur Kalimantan Barat pada 20 Oktober 2026 memperlihatkan Kapolresta Pontianak, Kombes Endang Tri Purwanto, berada di lokasi ketika sejumlah mahasiswa mengalami penyerangan oleh sekelompok orang tak dikenal (OTK) yang disebut sebagai organisasi masyarakat (ormas).
Faktakalbar.id - PONTIANAK — Rekaman video saat demonstrasi mahasiswa di Kantor Gubernur Kalimantan Barat pada 20 Oktober 2026 memperlihatkan Kapolresta Pontianak, Kombes Endang Tri Purwanto, berada di lokasi ketika sejumlah mahasiswa mengalami penyerangan oleh sekelompok orang tak dikenal (OTK) yang disebut sebagai organisasi masyarakat (ormas).
Tergambar jelas Kapolresta pontianak mengkoordinir ormas2 tersebut, karena tidak ada upaya kapolresta untuk membubarkan atau mengamankan ormas tersebut agar tidak bentrok sama kelompok mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi.
Dalam rekaman yang diambil langsung oleh Fakta Kalbar tersebut, terdengar ucapan, “Udah, udah,” disusul perintah, “Tarik, tarik.” Ucapan itu terdengar ketika situasi di massa mahasiswa sedang diserang sekelompok ormas Atau OTK.
Dari pantauan langsung Fakta Kalbar dan dari sudut pengambilan gambar, tidak terlihat pasukan kepolisian berada di depan Kapolresta ketika ucapan tersebut terdengar, anggota kepolisian terlihat berjaga di depan pintu masuk Kantor Gubernur Kalbar (Posisi dibelakang Kapolresta) dan di area parkir.
Pada bagian akhir rekaman, Kapolresta terlihat membelakangi kamera. Sikapnya tampak santai ketika situasi mahasiswa masih diserang dan dipukuli, sedang berlangsung.
Rangkaian gambar tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai respons aparat terhadap kekerasan yang dialami mahasiswa. Apa maksud perintah yang disampaikan Kapolresta? Kepada siapa perintah itu ditujukan?, sedangkan anggotanya tidak berada didalam kumpulan massa didepannya, Dan langkah apa yang dilakukan untuk menghentikan penyerangan tersebut?
Fakta Kalbar telah mengirimkan permintaan konfirmasi kepada Kapolresta Pontianak mengenai konteks perintah dalam rekaman, pengetahuannya tentang penyerangan terhadap mahasiswa, serta tindakan aparat saat kejadian berlangsung. Hingga berita ini disusun, jawaban masih ditunggu.
Mahasiswa Mengaku Diserang
Pada tanggal 20 Oktober, aksi demonstrasi mahasiswa dan masyarakat Kalimantan Barat di Kantor Gubernur Kalbar berakhir ricuh. Sejumlah mahasiswa mengaku mengalami pemukulan oleh sekelompok orang yang mereka sebut sebagai ormas.
Mahasiswa dipukuli oleh OTK (dok.ist)
Menurut keterangan mahasiswa kepada Fakta Kalbar, ketegangan terjadi ketika mereka berada di kawasan kantor gubernur. Setelah meninggalkan lokasi, mereka mengaku kembali mengalami pengejaran hingga ke Bundaran Digulis, kawasan Universitas Tanjungpura.
“Dari kantor gubernur tadi kami dikejar dan dipukul sama mereka sampai akhirnya kami mundur,” kata Thomas (Nama Samaran), Seorang mahasiswa kepada Fakta Kalbar pada 20 Oktober 2026.
“Tadi kami dikejar sekelompok OTK ketika berada di Bundaran Digulis. Sepertinya kami dibenturkan dengan OTK. Ada yang terluka tadi dipukuli,” kata seorang mahasiswa kepada Fakta Kalbar.
Menurut mahasiswa tersebut, mereka telah mengalami pemukulan sejak berada di dalam kawasan kantor gubernur. Setelah meninggalkan lokasi, mereka kembali dikejar oleh kelompok yang sama hingga ke Bundaran Digulis.
“Dari kantor gubernur tadi kami dikejar dan dipukul sama mereka sampai akhirnya kami mundur. Mereka tua-tua, kita tidak enak juga kalau sampai berkelahi sama mereka,” ujarnya.
Mahasiswa itu mempertanyakan perlindungan aparat terhadap peserta demonstrasi yang menyampaikan aspirasi.
“Harusnya polisi melindungi kami, jangan memanfaatkan keadaan,” katanya.
Penyerangan terhadap mahasiswa dalam rangkaian demonstrasi itu menimbulkan pertanyaan mengenai peran aparat dalam mengamankan penyampaian pendapat di muka umum.
Fakta Kalbar meminta tanggapan Kapolresta Pontianak atas persepsi sebagian masyarakat yang mempertanyakan kemampuan kepolisian mengendalikan demonstrasi tanpa melibatkan kelompok di luar aparat keamanan.
Kepolisian juga diminta menjelaskan apakah kelompok yang disebut mahasiswa sebagai ormas bertindak atas inisiatif sendiri atau terdapat pihak yang mengoordinasikan mereka.
Namun, keberadaan Kapolresta di lokasi, sikapnya yang tampak santai dalam rekaman, serta ucapan “udah, udah” dan “tarik, tarik” belum dengan sendirinya membuktikan bahwa ia memerintahkan kelompok tersebut menyerang mahasiswa.
Fakta Kalbar masih berupaya memperoleh jawaban Kapolresta Pontianak. Keterangan resmi kepolisian akan ditambahkan setelah diterima.(Anton)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.