Banjir di Pontianak: Langkah Pemerintah Hadapi Curah Hujan Tinggi Akhir Tahun hingga Tantangan Geografis
PONTIANAK
- Kota Pontianak kembali menghadapi tantangan banjir yang melanda sejumlah kawasan pada 15 hingga 16 November 2024 lalu. Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah ini sejak Jumat dini hari (15/11/2024) menyebabkan genangan air di berbagai titik, termasuk Jalan Ayani, Jalan Purnama, Jalan Perdana, dan Jalan Parit Haji Husein hingga Sepakat II.
Hingga Sabtu (16/11/2024), genangan air masih terlihat di beberapa lokasi, mengganggu aktivitas warga dan menyebabkan kemacetan lalu lintas.
Menurut BMKG Kalimantan Barat, curah hujan pada periode tersebut sebenarnya masih tergolong kategori ringan hingga sedang. Namun, kondisi geografis Pontianak yang berada hanya 1–2 meter di atas permukaan laut membuat kota ini sangat rentan terhadap genangan air. Situasi ini diperparah oleh saluran air yang tersumbat di beberapa lokasi.
Pj Wali Kota Pontianak, Edy Suryanto, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi potensi curah hujan lebih tinggi pada akhir Desember hingga awal Januari mendatang.
"Antisipasi yang dilakukan adalah kelancaran saluran airnya. Kita tahu ketika kita buang ke sana, rata-rata hanya 1–2 meter saja di atas permukaan laut. Itu lah rawan menjadi genangan tadi," ujar Edy usai membuka Seminar Tata Ruang di Pontianak, Selasa (19/11/2024).
Edy menambahkan bahwa normalisasi saluran air menjadi prioritas, termasuk pengerukan parit dan selokan.
"Saya sudah diskusi minta jajaran yang membidangi untuk melakukan langkah. Paling tidak dinormalkan jalur-jalur selokan itu. Dikeruk paritnya. Kalau lebih tinggi sungai, memfungsikan dan mengoperasikan kembali pompa di pintu-pintu air. Itu yang kita maksimalkan," jelasnya.
Selain itu, Edy mengingatkan bahwa peninggian jalan bukan solusi ideal karena dapat berdampak pada rumah warga.
"Bisa saja jalan ditinggikan kalau ada genangan, tapi kan rumah nanti yang tenggelam. Makanya saya minta dari teman-teman di PU untuk memikirkan," katanya.
Kepala Bidang Tata Ruang dan Pengendalian Dinas PUPR Kota Pontianak, Alfri, menyoroti tantangan geografis yang dihadapi Pontianak.
"Kemudian, dari sisi secara kontur geografis, Kota Pontianak ini kan terbentuk dari delta Sungai Kapuas, di mana permukaan air Sungai Kapuas hanya memiliki jarak 1 cm saja dari daratan. Berdasarkan peta daerah aliran sungai, hampir seluruh wilayah Kota Pontianak ini adalah DAS (Daerah Aliran Sungai). Itu sekitar 80,6% Daerah Aliran Sungai," ungkapnya.
Alfri menegaskan bahwa kondisi geografis tersebut memerlukan strategi yang matang untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan tata ruang.
"Ini otomatis juga kita memerlukan strategi-strategi dalam hal bagaimana mencari solusi dari berbagai permasalahan tata ruang yang dialami Kota Pontianak," tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kota Pontianak berencana melaksanakan kerja bakti, mulai dari pembersihan saluran air hingga normalisasi parit.
"Minimal itu, sama dari PU kewajibannya adalah memfungsikan pompa pintu air supaya paling tidak bisa berkurang. Namanya usaha. Kalau bisa menghilangkan genangan, mengurangi genangan juga mempercepat surutnya genangan itu sendiri kan upaya juga," kata Edy. (
RD
).
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.