faktakalbar

Bak Lautan Manusia, Haul ke-20 Abah Guru Sekumpul Selalu Dipenuhi Ribuan Jamaah

Penulis: Redaksi Monday, 06 January 2025 📖 2 menit
Bak Lautan Manusia, Haul ke-20 Abah Guru Sekumpul Selalu Dipenuhi Ribuan Jamaah
Faktanasional.net - Setiap tanggal 5 Rajab dalam kalender Hijriah, ribuan umat Muslim berkumpul di Martapura, Kalimantan Selatan, untuk memperingati Haul Abah Guru Sekumpul.   Pada tahun ini, peringatan haul yang ke-20 jatuh pada 5 Januari 2025, menjadi momen istimewa untuk mengenang perjuangan dan pengabdian KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, atau yang akrab disapa Abah Guru Sekumpul, dalam syiar Islam.   Haul Abah Guru Sekumpul menjadi salah satu acara keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan menarik perhatian umat Muslim dari luar negeri.   Ribuan jamaah datang dari berbagai wilayah untuk mengikuti rangkaian acara yang penuh hikmah ini. Mereka tidak hanya mengenang sosok ulama besar ini, tetapi juga meneladani ajaran dan perjalanan hidup beliau.   KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, yang lahir pada 11 Februari 1942 di Desa Tunggul Irang, Martapura, adalah putra dari pasangan Abdul Ghani bin Abdul Manaf dan Hj. Masliah binti H. Mulia.   Sejak kecil, beliau menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam ilmu agama. Pada usia tujuh tahun, beliau telah menghafal Al-Qur'an, dan di usia sembilan tahun, beliau mampu menghafal kitab Tafsir Jalalain.   Setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, Abah Guru Sekumpul memulai perjalanan dakwahnya sebagai pengajar.   Namun, keinginan untuk menjangkau lebih banyak umat membuatnya membuka pengajian di kediamannya. Pengajian yang beliau pimpin selalu dipenuhi jamaah dari berbagai kalangan, termasuk ulama, pejabat, hingga masyarakat umum.   Musala Ar-Raudhah menjadi pusat kegiatan dakwah beliau, tempat di mana beliau tetap mengajar meski dalam kondisi sakit.   Di sana, Abah Guru Sekumpul mengajarkan berbagai kitab kuning dan memperkenalkan Maulid Simthud Durar karya Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi.   Pada tahun 1980-an, beliau memutuskan pindah ke Sungai Kacang untuk menampung lebih banyak jamaah, meneladani hijrah Nabi Muhammad SAW.   Selain berdakwah, Abah Guru Sekumpul juga meninggalkan warisan intelektual yang menjadi rujukan umat hingga kini. Beberapa karya beliau antara lain: - Manaqib Syekh Sayyid Muhammad bin Abdul Karim al-Qadiri al-Hasani as-Samman al-Madani - Risalatun Nuraniyyah fi Syarhi Tawassulat as-Sammaniyah - Nubzah fi Manaqib al-Imam al-'Azham al-Faqih al-Muqaddam - Ar-Risalah fi Auradil Mufidah - Al-Imdad fi Auradi Ahlil Widad   Abah Guru Sekumpul wafat pada 10 Agustus 2005 di usia 63 tahun akibat penyakit ginjal.   Beliau dimakamkan di kompleks keluarga dekat Musala Ar-Raudhah, yang hingga kini menjadi salah satu tempat ziarah utama di Kalimantan Selatan.   Haul Abah Guru Sekumpul tidak hanya menjadi momen mengenang perjuangan beliau, tetapi juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah.   Jamaah yang hadir dari berbagai daerah menyatu dalam suasana religius yang penuh kedamaian.(*rfn)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK