Opini  

Iran vs Israel-Amerika Saling Menghancurkan Kilang Minyak, Siap-siap BBM Naik

Ilustrasi - Foto citra satelit yang menunjukkan kepulan asap hitam pekat akibat kebakaran di fasilitas kilang minyak setelah serangan rudal. (Dok. Faktakalbar.id)
Ilustrasi - Foto citra satelit yang menunjukkan kepulan asap hitam pekat akibat kebakaran di fasilitas kilang minyak setelah serangan rudal. (Dok. Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, OPINI – Yang namanya perang pasti saling menghancurkan. Soal kemanusiaan, tak ada lagi.

Yang ada nafsu saling membunuh.

Baca Juga: Israel Intensifkan Serangan ke Iran Masuki Fase Berikutnya 80 Persen Pertahanan Udara Lumpuh

Bukan hanya korban jiwa berguguran, melainkan kilang minyak jadi target utama. Nikmati narasinya sambil imajinasi seruput Koptagul, wak!

Sejak akhir Februari 2026, konflik antara Iran melawan poros Israel dan Amerika Serikat tidak lagi sekadar perang ancaman.

Ini sudah berubah jadi perang kilang minyak, perang tanker, perang energi. Kalau energi dunia ikut terbakar, bersiaplah, harga BBM bisa ikut naik seperti harga kolak saat Ramadan tinggal dua hari lagi.

Iran membuka ronde seperti orang lapar.

Mereka langsung menyerbu kilang minyak musuhnya. Drone dan misil diluncurkan ke fasilitas energi di kawasan Teluk yang dianggap terlalu akrab dengan Washington dan Tel Aviv.

Target paling bikin pasar minyak dunia tersedak adalah kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco di Arab Saudi.

Baca Juga: IRGC Serang Markas Staf Umum IDF dan Gedung Kemhan Israel

Kilang ini ibarat panci kolak raksasa dunia energi. Ketika serangan drone menghantam fasilitas tersebut pada awal Maret 2026, operasi kilang sempat dihentikan demi keamanan, dan pasar minyak langsung bereaksi seperti orang yang melihat takjil terakhir di meja tiba-tiba disambar orang lain.

Serangan tidak berhenti di satu piring gorengan.

Infrastruktur energi di berbagai negara Teluk ikut jadi sasaran. Kilang milik Bapco Energies di Bahrain ikut terguncang.

Fasilitas energi di Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab juga mengalami serangan atau gangguan keamanan.

Kapal tanker minyak di Teluk Persia bahkan menjadi target drone dan misil. Beberapa kapal rusak dan terbakar, membuat jalur pelayaran berubah seperti antrean panjang orang menunggu kolak di depan masjid.

Balasan dari Amerika dan Israel datang seperti orang yang merasa pisang gorengnya dicuri.

Pesawat tempur dan rudal mereka menghantam target energi di dalam Iran. Ledakan besar dilaporkan di fasilitas penyimpanan minyak dekat Teheran, dengan api membumbung tinggi menerangi langit malam ibu kota.

Serangan ini menjadi bagian dari kampanye militer yang bertujuan menghancurkan infrastruktur energi dan militer Iran.

Lalu muncul drama paling bikin dunia merinding, gangguan di Selat Hormuz. Jalur sempit ini dilewati sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Begitu konflik memanas dan kapal tanker mulai diserang, ratusan kapal langsung tertahan.

Beberapa bahkan berhenti berlayar karena takut menjadi sasaran berikutnya. Praktis, keran energi global seperti diputar setengah tertutup.

Pasar energi dunia langsung panik seperti orang yang melihat meja takjil kosong sebelum azan.

Harga minyak melonjak tajam. Brent crude naik hingga di atas 90 dolar per barel, bahkan sempat mendekati 94 dolar.

Kenaikan mingguan mencapai sekitar 30 persen—lonjakan terbesar sejak masa pandemi.

Minyak WTI Amerika juga menembus sekitar 90 dolar per barel. Gangguan tidak berhenti di harga minyak.

Produksi energi di kawasan Teluk mulai terganggu.

Kuwait bahkan memangkas produksi minyak karena pengiriman melalui Hormuz tersendat dan fasilitas penyimpanan mulai penuh. Jika konflik terus berlanjut, para analis memperingatkan harga minyak bisa menembus 100 dolar per barel atau lebih.

Di titik ini, ekonomi global mulai berkeringat seperti orang menunggu azan sambil mencium aroma gorengan.

Harga energi yang melonjak bisa memicu inflasi global, menaikkan biaya transportasi, dan pada akhirnya memukul harga BBM di berbagai negara. Negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, tentu ikut deg-degan.

Intinya sederhana.

Ketika kilang minyak dijadikan target perang, dunia seperti meja berbuka puasa yang dilempari granat. Kurma hancur, kolak tumpah, es buah pecah.

Yang awalnya cuma konflik regional berubah menjadi krisis energi global.

Ketika harga minyak melonjak, pompa bensin di belahan dunia lain ikut bergetar. Kalau nanti harga BBM tiba-tiba naik, ingat saja, di Timur Tengah sana, meja “takjil energi dunia” sedang porak-poranda.

Oleh: Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar