Sisi Gelap Tradisi Buka Kelambu: Mengapa Eksploitasi Perempuan Bukanlah Seni

"Membedah mengapa tradisi Buka Kelambu dalam Ronggeng Dukuh Paruk dianggap sebagai bentuk pelecehan. Simak ulasan kritis mengenai hak atas tubuh dan martabat perempuan. "
Membedah mengapa tradisi Buka Kelambu dalam Ronggeng Dukuh Paruk dianggap sebagai bentuk pelecehan. Simak ulasan kritis mengenai hak atas tubuh dan martabat perempuan. (Dok. Mira/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dalam khazanah sastra dan budaya yang dipotret melalui Ronggeng Dukuh Paruk, terdapat satu fase krusial yang terus memicu perdebatan: Buka Kelambu.

Meski sering dianggap sebagai bagian dari ritus inisiasi seorang penari, praktik ini sejatinya menyisakan luka mendalam bagi martabat perempuan.

Komodifikasi Tubuh di Atas Panggung Adat

Tradisi Buka Kelambu pada dasarnya adalah sayembara memperebutkan keperawanan seorang calon ronggeng oleh lelaki dengan tawaran harga tertinggi.

Baca Juga: Layar Lebar vs Halaman Buku: 5 Perbedaan Mencolok Film ‘Sang Penari’ dan Novel ‘Ronggeng Dukuh Paruk’

Di titik inilah, nilai seorang manusia direduksi menjadi sekadar komoditas ekonomi. Keperawanan yang seharusnya menjadi hak privasi dan kedaulatan individu, justru dilelang demi status sosial dan ekonomi dusun.

Hilangnya Body Autonomy Perempuan

Salah satu bentuk pelecehan paling nyata dalam tradisi ini adalah hilangnya hak atas tubuh sendiri atau body autonomy.

Calon penari tidak memiliki kuasa untuk menolak siapa pun lelaki yang memenangkan sayembara tersebut.