TV Pemerintah Iran Konfirmasi Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Teheran Lancarkan Rudal Balasan

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. (Dok. Ist)

Baca Juga: Negosiasi Nuklir Buntu, Trump Tolak Pengayaan Uranium dan Tahan Opsi Militer Terhadap Iran

Serangan militer berskala besar yang merenggut nyawa Ayatollah Ali Khamenei tersebut dilancarkan oleh pasukan koalisi Amerika Serikat dan Israel pada hari Sabtu. Dalam operasi militernya, pasukan gabungan tersebut menyasar sejumlah target strategis yang berada di dalam wilayah kedaulatan Iran, di mana salah satu lokasi yang digempur habis-habisan adalah wilayah ibu kota Teheran.

Berdasarkan laporan resmi yang disiarkan, agresi militer yang dilakukan oleh AS bersama sekutu utamanya di kawasan Timur Tengah itu menimbulkan dampak yang fatal. Serangan tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur negara secara masif, tetapi juga turut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan penduduk sipil yang berada di sekitar area target gempuran.

Merespons kematian Ayatollah Ali Khamenei dan kerugian besar akibat serangan tersebut, Pemerintah Iran bergerak cepat mengambil tindakan balasan. Militer Teheran merespons agresi itu dengan melancarkan serangan rudal balasan dalam intensitas tinggi. Sasaran tembakan rudal Iran diarahkan langsung terhadap wilayah kedaulatan Israel, serta turut menargetkan sejumlah pangkalan militer milik Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan Timur Tengah.

Insiden mematikan ini mengakhiri era kepemimpinan salah satu figur paling sentral di panggung geopolitik global. Menurut catatan sejarah, mendiang merupakan kepala negara dengan rekor masa jabatan terlama di seluruh kawasan Timur Tengah. Ia secara definitif menduduki kursi kekuasaan tertinggi sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak tahun 1989.

Sebelum mencapai posisi pucuk pimpinan absolut tersebut, ia juga memiliki rekam jejak panjang di pemerintahan eksekutif. Ia tercatat pernah mengemban amanah sebagai Presiden Iran selama dua periode berturut-turut, yakni bermula dari tahun 1981 hingga berakhir pada tahun 1989. Tewasnya pimpinan tertinggi Iran ini dipastikan memicu babak baru peperangan terbuka antara Teheran melawan koalisi militer Amerika Serikat dan Israel.

(*Red)