Negosiasi Nuklir Buntu, Trump Tolak Pengayaan Uranium dan Tahan Opsi Militer Terhadap Iran

"Merespons jalan buntu dalam perundingan di Jenewa, Presiden AS Donald Trump menolak keras hak pengayaan uranium Iran dan tetap membuka opsi serangan militer."
Merespons jalan buntu dalam perundingan di Jenewa, Presiden AS Donald Trump menolak keras hak pengayaan uranium Iran dan tetap membuka opsi serangan militer. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengekspresikan rasa frustrasinya atas jalan buntu dalam perundingan nuklir dengan Iran.

Merespons lambatnya progres diplomasi, pemerintahan Washington menyatakan belum mengesampingkan opsi serangan militer terhadap Teheran.

Putaran perundingan terbaru antara AS dan Iran yang digelar di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2/2026) waktu setempat dinilai gagal mencapai kesepakatan substansial.

Trump menilai delegasi Teheran enggan memberikan konsesi yang dituntut oleh AS.

Baca Juga: Jenderal Dan Caine Ingatkan Trump: Serangan ke Iran Bisa Picu Korban Massal bagi AS dan Sekutu

“Kita belum membuat keputusan akhir,” ujar Trump terkait penggunaan kekuatan militer, Sabtu (28/2/2026).

Ia juga melontarkan ketidakpuasannya secara langsung,

“Kita tidak sepenuhnya senang dengan cara mereka bernegosiasi.”

Akar dari ketegangan diplomasi ini berpusat pada level pengayaan uranium (uranium enrichment).

Trump menuntut agar Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan tanpa terkecuali.

Di sisi lain, Iran bersikeras mempertahankan hak pengayaan di level 20 hingga 30 persen dengan dalih untuk kebutuhan energi dan medis sipil.