Opini  

Saat WNI Ingin Kabur, 700 WNA Justru Antre Masuk!

"Opini Rosadi Jamani menyoroti fenomena paradoks ketika ramai tren warga negara kita ingin pindah ke luar negeri, sementara ratusan WNA justru antre mengurus naturalisasi menjadi WNI."
Opini Rosadi Jamani menyoroti fenomena paradoks ketika ramai tren warga negara kita ingin pindah ke luar negeri, sementara ratusan WNA justru antre mengurus naturalisasi menjadi WNI. (Dok. Ist)

Tujuh ratus lebih orang asing rela berjibaku dengan berkas, legalisasi, dan sumpah setia demi satu status: warga negara Indonesia.

Di sisi lain, ada yang merasa status itu seperti kartu member yang tidak lagi prestisius.

Belum selesai. Dari kalangan perkawinan campur, ada 714 permohonan anak ingin menjadi WNI.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006, anak dari perkawinan campur punya kewarganegaraan ganda terbatas hingga usia 18 tahun dan wajib memilih salah satu paling lambat usia 21 tahun.

Nuan bayangkan, usia 18–21 tahun biasanya dipakai untuk galau jurusan kuliah atau pasangan hidup. Namun 714 anak ini memilih negara.

Pilihannya condong ke Indonesia.

Widodo menegaskan tingginya permohonan ini menandakan kecintaan warga negara asing kepada Indonesia.

Kakanwil Kemenkum NTB, I Gusti Putu Milawati, mengingatkan kewarganegaraan bukan sekadar dokumen, melainkan komitmen moral dan konstitusional kepada NKRI, Pancasila, dan UUD 1945.

Naturalisasi dilaksanakan ketat dan bertahap. Jadi, menjadi WNI bukan seperti bikin akun media sosial.

Tidak ada tombol “daftar lewat Facebook”.

Di titik ini, rasa heran itu wajar. Sebagian kita menatap ke luar negeri seperti melihat surga ber-AC sentral.

Sementara ratusan orang asing memandang Indonesia seperti taman tropis penuh peluang.

Apakah mereka melihat pasar besar? Stabilitas? Budaya?

Atau sekadar jatuh cinta pada sambal belacan yang bisa membuat air mata bahagia? Entahlah.

Ironinya megah. Saat sebagian anak bangsa ingin “kabur aja dulu”, orang asing justru berkata, “Masuk aja dulu.”

Data berbicara, antrean mengular, seleksi makin ketat. Dunia memang penuh paradoks.

Indonesia, rupanya, masih cukup menarik untuk diperebutkan. Bahkan oleh mereka yang tidak lahir di sini.

Lalu, kita? Masih sibuk mencari tiket keluar, sementara yang lain mengetuk pintu masuk.

“Bang, coba cek yang dari Korea Selatan, apakah ada Nohran mau jadi WNI juga.”

“Hus, ente nyebut nama dia lagi, cukuplah di Liga Voli Korea bersama Mega dulu.” Ups.

Baca Juga: Berencana ke Singapura? Waspada, Puluhan Ribu Warga Asing Ditolak Masuk Sepanjang 2025

Penulis: Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)