OPINI – Agak aneh dan paradoks. Banyak warga kita ingin kabur ke luar negeri.
Sebaliknya, banyak warga asing berbondong-bondong ingin jadi WNI. Simak narasinya sambil membayangkan seruput Koptagul, wak!
Tagar #kaburajadulu pernah beredar seperti diskon akhir tahun. Menggoda, ramai, dan penuh testimoni dramatis.
Seolah-olah Indonesia ini kos-kosan bocor. Kalau hujan sedikit, langsung packing.
Baca Juga: Singapura Buka Peluang 30.000 Warga Negara Baru Per Tahun, Tertarik Pindah?
Klimaksnya makin teatrikal ketika penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, berkata, “Cukup Saya Aja yang WNI, Anak-anakku Jangan.” Kalimat itu seperti petir di siang bolong.
Netizen tercekat, algoritma tepuk tangan, pesimisme naik level jadi olahraga nasional.
Namun, tunggu dulu. Plot twist datang tanpa aba-aba.
Di saat sebagian warga ingin kabur entah ke mana, asal jangan di sini, orang luar negeri justru antre ingin jadi WNI. Antre.
Bukan satu dua yang nyasar karena salah Google Maps, melainkan ratusan yang serius mengisi formulir.
Ditjen Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum mencatat tren kenaikan permohonan naturalisasi dalam enam tahun terakhir. Dirjen AHU Widodo menyebut minat pada 2024, 2025, dan beberapa tahun ke belakang cukup tinggi.
Mari kita kunyah datanya pelan-pelan supaya rasa herannya matang. Tahun 2020 ada 37 permohonan, 29 diterima.
Tahun 2021 melonjak jadi 63 permohonan, 61 diterima. Tahun 2022 lebih dramatis lagi: 63 permohonan, semuanya diterima.
Lulus semua. Seperti kelas yang isinya anak-anak teladan.
Tahun 2023 ada 69 permohonan, 66 diterima, tiga tidak. Masuk akal, cinta pun kadang bertepuk sebelah tangan.
Lalu 2024 datang dengan angka yang bikin dahi berkerut: 265 permohonan WNA ingin jadi WNI. Dua ratus enam puluh lima.
Namun yang disetujui hanya 20. Sisanya?
Mengantre, melengkapi dokumen, mungkin sambil latihan mengucap “Bhinneka Tunggal Ika” tanpa salah artikulasi.
Tahun 2025 hingga kini tercatat 147 permohonan baru, tetapi baru dua yang terproses lengkap dan diterima. Dua.
Angka yang begitu kecil dibanding gegap gempita #kaburajadulu.
Secara keseluruhan, lebih dari 700 WNA masih berproses melengkapi dokumen untuk menjadi WNI.













