3. Fleksibilitas Standar Gaji
Ini adalah faktor realistis dalam dunia bisnis. Lulusan S1, dengan investasi waktu (4 tahun) dan biaya kuliah yang tidak sedikit, wajar jika memiliki ekspektasi gaji yang lebih tinggi di atas UMR.
Di sisi lain, lulusan SMA/SMK yang biasanya merupakan pencari kerja pemula (entry level), cenderung lebih fleksibel menerima standar gaji awal atau UMR.
Bagi perusahaan yang sedang melakukan efisiensi anggaran, merekrut lulusan SMA/SMK untuk posisi-posisi tertentu dinilai lebih ekonomis namun tetap produktif.
4. Mentalitas “Batu Loncatan”
Banyak lulusan SMA/SMK yang memiliki mentalitas pragmatis: “yang penting kerja dulu”.
Mereka cenderung tidak terlalu pemilih soal job description atau gengsi jabatan. Mereka bersedia memulai karier dari posisi paling bawah, seperti pramuniaga, operator produksi, atau admin gudang.
Fleksibilitas mental ini membuat mereka lebih cepat mendapatkan pekerjaan pertamanya.
Sebaliknya, sarjana seringkali memiliki pertimbangan idealisme karier yang sesuai jurusan, yang justru mempersempit peluang mereka sendiri.
5. Usia Muda yang Mudah Dibentuk
Lulusan SMA/SMK biasanya memasuki dunia kerja di usia 18-19 tahun.
Di mata HRD, usia ini dianggap sebagai masa di mana seseorang masih sangat energik, memiliki rasa ingin tahu tinggi, dan lebih mudah dibentuk (moldable) sesuai kultur perusahaan.
Mereka dianggap seperti “kertas putih” yang siap diisi dengan nilai-nilai perusahaan, dibandingkan lulusan tingkat lanjut yang terkadang sudah memiliki pola pikir yang kaku atau terlalu teoritis.
Tulisan ini tidak bermaksud mengatakan bahwa kuliah tidak penting.
Gelar sarjana tetap krusial untuk jenjang karier jangka panjang dan posisi strategis.
Namun, fenomena ini mengajarkan bahwa dalam dunia kerja, ijazah hanyalah pintu masuk. Keterampilan, sikap adaptif, dan kemampuan membaca peluanglah yang menentukan siapa yang bertahan.
(Mira)
















