Fakta Klinis di Balik Fenomena “Remaja Jompo”: Tinjauan Fisiologis Kesehatan Gen Z

"Fenomena "Remaja Jompo" mengindikasikan krisis kesehatan muskuloskeletal dini. Artikel ini membedah dampak gaya hidup sedenter dan screen time terhadap anatomi tubuh Gen Z secara medis."
Fenomena "Remaja Jompo" mengindikasikan krisis kesehatan muskuloskeletal dini. Artikel ini membedah dampak gaya hidup sedenter dan screen time terhadap anatomi tubuh Gen Z secara medis. (Dok. Ist)

Inilah akar masalah nyeri pinggang persisten pada usia muda.

3. Defisiensi Vitamin D dan Myopathy

Rasa lelah, linu, dan nyeri tulang yang samar sering kali bukan karena faktor usia, melainkan Defisiensi Vitamin D.

Gen Z menghabiskan mayoritas waktu di dalam ruangan (indoor generation).

Vitamin D sangat krusial tidak hanya untuk kepadatan tulang, tetapi juga fungsi neuromuskular.

Kekurangan vitamin D tingkat klinis dapat menyebabkan kondisi yang disebut myopathy (kelemahan otot proksimal) dan nyeri tulang difus, yang sering diterjemahkan secara awam sebagai rasa “jompo”.

4. Manifestasi Psikosomatis: Respons Tubuh terhadap Stres Digital

Hubungan mind-body sangat signifikan. Tingginya prevalensi gangguan kecemasan (anxiety) pada Gen Z memiliki manifestasi fisik langsung.

Di bawah tekanan stres kronis, tubuh memproduksi kortisol dan memicu respons fight or flight. Secara fisiologis, tubuh merespons dengan ketegangan otot defensif (muscle armoring), terutama di area bahu, leher, dan rahang.

Jika stresor tidak hilang (misalnya tekanan media sosial atau pekerjaan), otot akan terus dalam status kontraksi, menyebabkan nyeri yang tidak responsif terhadap pijatan biasa.

5. Disrupsi Irama Sirkadian dan Regenerasi Sel

Fenomena menunda tidur (Revenge Bedtime Procrastination) mengganggu proses biologis krusial.

Secara fisiologis, puncak pelepasan Hormon Pertumbuhan Manusia (HGH) yang bertanggung jawab atas perbaikan jaringan otot dan tulang terjadi pada fase tidur gelombang lambat (Deep Sleep).

Paparan cahaya biru (blue light) dari gawai menekan melatonin dan menggeser ritme sirkadian, sehingga tubuh kehilangan jendela waktu optimal untuk pemulihan selular.

Akibatnya, tubuh mengalami akumulasi kelelahan mikroskopis yang berujung pada keletihan kronis.

Rekomendasi Klinis

Kondisi “Remaja Jompo” adalah konsekuensi fisiologis yang dapat direversimidasi (diperbaiki) melalui intervensi gaya hidup:

  1. Koreksi Postur: Terapkan aturan ergonomis saat menggunakan gawai untuk mengurangi beban servikal.
  2. Aktivasi Otot: Lakukan latihan penguatan rantai otot posterior (posterior chain) untuk melawan efek duduk lama.
  3. Eksposur Matahari: Pastikan asupan Vitamin D yang cukup melalui sinar matahari atau suplementasi terukur.

Memahami mekanisme biologis ini penting agar penanganan yang dilakukan tepat sasaran, bukan sekadar mengandalkan pereda nyeri sementara.

Baca Juga: Idealism vs Realitas: 5 Tantangan Berat yang Dihadapi Jurnalis Gen Z di Era Digital

(Mira)