Faktakalbar.id, LIFESYLE – Penetapan Kue Batang Burok sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia menarik perhatian publik terhadap penganan tradisional ini. Di balik bentuknya yang sederhana, kue ini menyimpan sejarah panjang dan nilai filosofi yang mengajarkan etika dan integritas.
Generasi muda perlu memahami asal-usul kuliner ini agar tidak hanya sekadar menikmatinya sebagai camilan Lebaran. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai sejarah dan makna yang terkandung dalam setiap gigitan Kue Batang Burok.
Baca Juga: Kue Batang Burok dan Tari Timang Banjar Resmi Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda
Bermula dari Kisah Cinta Putri Raja
Sejarah mencatat kue ini sudah ada sejak 450 tahun lalu di lingkungan Kerajaan Bintan. Kehadiran kue ini bermula dari kisah Wan Sinari, putri sulung Baginda Raja Tua, yang memendam perasaan kepada seorang pemuda bernama Raja Andak yang bergelar Panglima Muda Bintan.
Wan Sinari menciptakan penganan unik ini untuk mengusir kesedihan karena cintanya tidak berbalas. Ia membuat kue yang terlihat kokoh di luar, namun hancur berderai saat seseorang menggigitnya.
Sang Putri kemudian menghidangkan kue tersebut kepada para tamu istana dan pejabat kerajaan yang berkumpul.
Ujian Etika dan Kesopanan
Kue buatan Wan Sinari ternyata menjadi ujian terselubung bagi para bangsawan. Para tamu yang memakan kue tersebut secara terburu-buru merasa malu karena remah-remah kue berjatuhan dan mengotori pakaian kebesaran mereka.
Hanya Raja Andak yang berhasil lolos dari jebakan tersebut. Ia menyantap kue itu dengan tenang dan hati-hati sehingga tidak ada serpihan yang jatuh. Peristiwa ini menunjukkan bahwa bangsawan sejati memiliki tata krama makan yang baik dan tidak ceroboh.
















