HUT Kalbar 69: Ironi Sumber Daya Melimpah Tapi IPM Rendah

Ilustrasi - Data BPS 2025 menunjukkan IPM Kalbar tertinggal dari Kaltim. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Data BPS 2025 menunjukkan IPM Kalbar tertinggal dari Kaltim. (Dok. Ist)

Pertumbuhan Ekonomi Semu

BPS mencatat ekonomi Kalimantan Barat tumbuh sebesar 5,59 persen pada triwulan II-2025. Sektor pertambangan mencatatkan lonjakan tertinggi seiring dengan aktivitas ekspor bauksit dan mineral lainnya. Angka pertumbuhan ini terlihat impresif di atas kertas.

Namun, pertumbuhan ekonomi makro ini tidak serta-merta menetes ke bawah. Ratusan ribu warga masih hidup di bawah garis kemiskinan. Data Maret 2025 menunjukkan bahwa 330,95 ribu jiwa atau sekitar 6,16 persen penduduk Kalimantan Barat masih berstatus miskin.

Mereka memiliki rata-rata pengeluaran di bawah Rp622.882 per bulan. Hal ini membuktikan bahwa kekayaan sumber daya alam yang pemerintah banggakan belum efektif mengangkat derajat ekonomi masyarakat kelas bawah.

Evaluasi Belanja Daerah

Pemerintah Provinsi harus mengubah strategi anggaran secara radikal. Selama ini, belanja daerah sering kali habis untuk operasional birokrasi dan proyek fisik yang tidak berdampak langsung pada Indeks Pembangunan Manusia.

Pemerintah wajib mengalihkan fokus anggaran untuk intervensi spesifik di sektor pendidikan dan kesehatan. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di daerah pedalaman masih rendah karena minimnya akses infrastruktur pendidikan.

Baca Juga: Pesona Wisata Kalimantan Barat: Sungai Terpanjang dan Khatulistiwa

Tanpa perbaikan kualitas manusia, Kalimantan Barat hanya akan menjadi penonton ketika investasi besar masuk ke Pulau Kalimantan seiring pembangunan IKN.

HUT ke-69 ini menjadi peringatan. Jika data menunjukkan manusianya masih tertinggal. Masyarakat membutuhkan bukti kerja nyata berupa peningkatan IPM, bukan sekadar perayaan seremonial tahunan.

(*Sr)