Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Di tengah kesibukan dan rasa kesepian yang kerap melanda masyarakat modern, teknologi hadir menawarkan solusi instan.
Chatbot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti ChatGPT, Gemini, hingga Claude kini bukan sekadar alat bantu kerja, melainkan menjelma menjadi “teman curhat” digital.
Mereka ada 24 jam, merespons cepat, dan yang terpenting: tidak menghakimi.
Tak heran jika banyak orang kini lebih nyaman menumpahkan masalah asmara, konflik kantor, atau kecemasan pribadi kepada robot ketimbang teman manusia.
Baca Juga: Stop Rebus Sayuran Ini! 5 Jenis Sayur yang Justru Lebih Sehat Jika Dimakan Mentah
Namun, di balik rasa lega yang didapat, ada harga mahal yang dipertaruhkan, yaitu privasi Anda.
AI Bukan Buku Harian Terkunci
Kesalahpahaman terbesar pengguna adalah menganggap kolom percakapan dengan AI sama amannya dengan buku harian di dalam laci terkunci atau sesi konseling tertutup dengan psikolog.
Faktanya tidak demikian.
Setiap kalimat yang Anda ketikkan disimpan di server perusahaan pengembang.
Data percakapan ini sering kali menjadi aset berharga yang digunakan kembali untuk melatih model AI agar lebih pintar di masa depan.
Artinya, cerita tentang perselingkuhan, kondisi kesehatan, atau rahasia keluarga yang Anda tulis, berpotensi terekam abadi dalam “ingatan” sistem mereka.
Ada Mata Manusia yang Membaca
Ini adalah fakta yang jarang disadari pengguna awam.
Demi meningkatkan kualitas jawaban agar makin luwes dan akurat, perusahaan teknologi mempekerjakan ribuan peninjau manusia (human reviewers).
















