“Hampir 15 tahun setelah bencana, situasi di Fukushima masih belum terkendali, dan TEPCO ingin menghidupkan kembali pembangkit? Bagi saya, itu sama sekali tidak dapat diterima,” ujar Keisuke Abe (81), salah satu demonstran, dengan nada geram.
Survei lokal pada September lalu mencatat fakta menohok: 60 persen warga menentang pengaktifan kembali PLTN ini, jauh melampaui 37 persen yang mendukung.
Isu keselamatan menjadi sorotan utama, mengingat lokasi PLTN yang berada di zona patahan seismik aktif dan rekam jejak TEPCO yang sempat tersandung skandal pemalsuan data keamanan.
Alasan Klasik: Demi Listrik Tokyo
Pemerintah Jepang, di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi, berdalih langkah ini krusial untuk memenuhi target netralitas karbon 2050 dan menopang kebutuhan energi raksasa bagi perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Jepang yang miskin sumber daya alam ingin memangkas ketergantungan pada impor bahan bakar fosil yang saat ini masih menyuplai hampir 70 persen listrik negara tersebut.
Namun, argumen ini justru mempertebal sentimen ketidakadilan bagi warga Niigata. Mereka merasa dijadikan “tumbal” risiko demi menerangi gemerlap kota metropolitan Tokyo.
“Ini adalah listrik untuk Tokyo yang dihasilkan di Kashiwazaki, jadi mengapa orang-orang di sini harus dihadapkan pada risiko? Itu tidak masuk akal,” protes Yumiko Abe (73), warga setempat.
Kini, “raksasa tidur” itu telah bangun.
Jepang bertaruh besar bahwa tembok tsunami setinggi 15 meter dan sistem keamanan baru mampu menjinakkan potensi bencana.
Namun bagi warga Kashiwazaki, setiap getaran tanah kini akan terasa jauh lebih menakutkan dari sebelumnya.
Baca Juga: Jepang dan UEA Jadi Destinasi Liburan Teraman Asia 2026
(Mira)
















