Reza Pahlavi Muncul Tawarkan Diri Pimpin Transisi Iran, Ambisi Monarki di Tengah Oposisi yang Terpecah

"Reza Pahlavi muncul menawarkan diri memimpin transisi Iran di tengah demo besar. Namun, sejarah monarki dan oposisi yang terpecah menjadi tantangan legitimasinya."
Reza Pahlavi muncul menawarkan diri memimpin transisi Iran di tengah demo besar. Namun, sejarah monarki dan oposisi yang terpecah menjadi tantangan legitimasinya. (Dok. Ist)

“Kita akan sepenuhnya membuat Republik Islam dan aparatus penindasannya yang usang dan rapuh bertekuk lutut. Saya di sini untuk menyerahkan diri kepada rekan-rekan sebangsa saya untuk memimpin mereka di jalan menuju transisi demokrasi,” ujar Pahlavi, dikutip Senin (12/1/2026).

Baca Juga: Iran Chaos, Trump Ancam Intervensi Militer

Namun, manuver politik Pahlavi menghadapi sorotan tajam terkait relevansi dan legitimasinya di mata rakyat Iran saat ini.

Meski teriakan “Hidup Shah!” terdengar di beberapa titik protes, gerakan oposisi di lapangan dinilai sangat terfragmentasi.

Berbeda dengan Revolusi 1979 yang terpusat pada sosok Ayatollah Khomeini, gelombang protes 2026 tidak memiliki komando tunggal.

Kritik keras juga muncul dari kalangan demonstran muda yang menolak gagasan kembali ke sistem monarki. Sejarah represi di bawah rezim ayahnya, Mohammad Reza Shah Pahlavi terutama kekejaman dinas rahasia SAVAK—masih menjadi memori kolektif yang sulit dihapus.

“Semua yang dipelajari Reza Pahlavi tentang memerintah negara berasal dari ayahnya yang gagal karena suatu alasan. Kita pernah memiliki Pahlavi, sekarang saatnya untuk negara yang demokratis,” ungkap Azadeh (27), seorang warga Iran yang terlibat dalam protes.

Posisi Pahlavi semakin rumit akibat sikap politik luar negerinya.

Kedekatannya dengan Israel, termasuk kunjungan bertemu PM Benjamin Netanyahu pada 2023 dan dukungannya terhadap serangan udara AS-Israel ke fasilitas nuklir Iran, menjadi pisau bermata dua.

Di satu sisi ia mencari dukungan internasional, namun di sisi lain berisiko dianggap sebagai “boneka asing” oleh kaum nasionalis Iran.

Hingga kini, dukungan resmi dari negara barat belum sepenuhnya solid.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meski menyatakan dukungan terhadap demonstran, secara eksplisit mengaku “tidak yakin” apakah pertemuan dengan Reza Pahlavi adalah langkah yang tepat secara diplomatik.

Krisis di Iran saat ini dipicu oleh inflasi tinggi, sanksi internasional yang mencekik, serta ketidakstabilan pasca konflik militer singkat dengan Israel dan AS pada Juni lalu.

Dalam situasi chaos tanpa pemimpin yang jelas, tawaran Pahlavi menjadi satu dari sekian banyak narasi yang bertarung di tengah kemarahan publik.

Baca Juga: Australia Tarik Warga, Sinyal Iran di Ambang Chaos Akibat Brutalitas Aparat?

(Mira)