Mengapa Pelaku KBGO Terus Mengulang Kekerasan?

Ilustrasi - Tanpa akuntabilitas dan sanksi tegas, KBGO terus berulang.
Ilustrasi - Tanpa akuntabilitas dan sanksi tegas, KBGO terus berulang.

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) masih menjadi persoalan serius di ruang digital. Meski laporan dan diskusi publik tentang KBGO terus meningkat, pelaku kekerasan justru kerap mengulang tindakannya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa KBGO bukan sekadar perilaku individu, melainkan persoalan struktural yang dipengaruhi oleh budaya, sistem digital, dan lemahnya penegakan aturan.

Memahami mengapa pelaku KBGO terus mengulang kekerasan menjadi penting untuk merumuskan strategi pencegahan yang lebih efektif.

Baca Juga: Mengapa Korban KBGO Sulit untuk Melapor?

  • Anonimitas Digital dan Rasa Kebal terhadap Konsekuensi

Ruang digital menyediakan anonimitas yang sering disalahgunakan pelaku KBGO. Identitas yang tersembunyi menciptakan rasa aman semu, seolah tindakan mereka tidak dapat dilacak atau dipertanggungjawabkan.

Kondisi ini membuat pelaku lebih berani melakukan pelecehan, ancaman, hingga penyebaran konten intim tanpa persetujuan.

Ketika kekerasan berbasis gender online tidak segera ditindak, pelaku cenderung menganggap tindakannya sebagai perilaku tanpa risiko.

  • Normalisasi Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Publik

KBGO tidak terlepas dari budaya yang menormalisasi kekerasan berbasis gender. Narasi merendahkan perempuan dan kelompok rentan telah lama hadir di ruang publik, lalu direproduksi di ruang digital.

Dalam konteks ini, pelaku KBGO sering merasa tindakannya wajar, bahkan dianggap sebagai candaan atau ekspresi kebebasan berpendapat.

Normalisasi ini membuat pelaku sulit menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah bentuk kekerasan.

  • Minimnya Efek Jera terhadap Pelaku KBGO

Faktor lain yang mendorong pelaku KBGO terus mengulang kekerasan adalah minimnya efek jera. Proses pelaporan yang panjang, respons platform yang lambat, serta lemahnya penegakan hukum membuat pelaku jarang menghadapi konsekuensi nyata.

Akun yang diblokir dapat dengan mudah diganti, sementara sanksi sosial sering kali tidak terjadi. Situasi ini menciptakan siklus kekerasan berbasis gender online yang berulang.

  • Dorongan Kuasa dan Kontrol atas Korban

KBGO kerap digunakan sebagai alat untuk mempertahankan relasi kuasa. Pelaku memanfaatkan serangan digital untuk mengintimidasi, membungkam, atau mengontrol korban.

Ancaman dan pelecehan yang dilakukan secara berulang bertujuan menciptakan rasa takut agar korban menarik diri dari ruang digital.