Mental Aman, Karir Nyaman: 5 Tanda Lingkungan Kerja Toxic yang Harus Segera Ditinggalkan

"Merasa tertekan setiap masuk kantor? Hati-hati, itu bukan sekadar lelah biasa. Kenali 5 tanda lingkungan kerja toxic yang berbahaya bagi mentalmu di sini."
Merasa tertekan setiap masuk kantor? Hati-hati, itu bukan sekadar lelah biasa. Kenali 5 tanda lingkungan kerja toxic yang berbahaya bagi mentalmu di sini. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda merasa sakit perut atau cemas berlebihan setiap hari Minggu malam karena memikirkan hari Senin?

Jika ya, mungkin masalahnya bukan pada rasa malas, melainkan pada tempat Anda bekerja.

Istilah toxic work environment atau lingkungan kerja beracun kini semakin sering dibicarakan.

Ini bukan sekadar tentang bos yang galak, tetapi sebuah sistem budaya kerja yang merusak kesehatan mental dan fisik karyawannya secara perlahan.

Baca Juga: Bukan Cuma Soal Cuan, Ini 5 Alasan Gen Z Memilih Kerja Sambil Kuliah

Jangan abaikan “alarm” dari tubuh dan pikiran Anda.

Berikut adalah 5 tanda nyata lingkungan kerja toxic yang menjadi sinyal kuat bahwa Anda harus segera menyusun rencana untuk resign.

1. Komunikasi yang Buruk dan Pasif-Agresif

Di lingkungan yang sehat, komunikasi berjalan terbuka dan jelas.

Namun, di tempat yang toxic, informasi sering disembunyikan, instruksi diberikan setengah-setengah, atau yang terburuk: gaya komunikasi pasif-agresif.

Rekan kerja atau atasan mungkin sering memberikan sindiran halus, melakukan silent treatment (mendiamkan) saat marah, atau memberikan kritik di depan umum hanya untuk mempermalukan.

Pola komunikasi seperti ini menciptakan rasa tidak aman dan kebingungan yang konstan.

2. Tidak Adanya Work-Life Balance

“Kerja keras” dan “dieksploitasi” adalah dua hal yang berbeda.

Lingkungan toxic sering kali menuntut loyalitas tanpa batas.

Tandanya terlihat jelas: Anda diharapkan membalas chat pekerjaan di tengah malam atau akhir pekan, merasa bersalah saat mengambil cuti sakit, atau lembur setiap hari dianggap sebagai standar kewajaran tanpa kompensasi yang jelas.

Jika kehidupan pribadi Anda sudah tergerus habis oleh pekerjaan, itu adalah tanda bahaya.

3. Drama dan Gosip Menjadi Budaya Harian

Kantor seharusnya menjadi tempat profesional, bukan arena drama sekolah menengah.

Jika sebagian besar waktu di kantor habis untuk membicarakan kejelekan orang lain, saling sikut untuk mencari muka, atau adanya “kubu-kubuan” (klik) yang saling menjatuhkan, maka Anda berada di tempat yang salah.

Budaya saling tidak percaya ini akan membuat Anda selalu waspada dan curiga (insecure), yang pada akhirnya menguras energi mental Anda untuk hal-hal yang tidak produktif.

4. Tingkat Turnover Karyawan yang Sangat Tinggi

Cobalah perhatikan, seberapa sering ada karyawan yang keluar dan masuk di perusahaan tersebut?

Jika Anda melihat rekan kerja silih berganti resign dalam waktu singkat (kurang dari setahun), itu adalah indikator paling jujur bahwa ada yang tidak beres dengan manajemen atau budaya perusahaan tersebut.

Karyawan yang bahagia dan dihargai biasanya akan bertahan lama.

5. Tidak Ada Ruang untuk Berkembang (Stagnan)

Lingkungan toxic sering kali mematikan potensi.

Ide-ide Anda tidak pernah didengar, prestasi tidak pernah diapresiasi, namun kesalahan kecil selalu dibesar-besarkan.

Anda merasa terjebak melakukan rutinitas yang sama tanpa ada pelatihan, mentoring, atau jenjang karir yang jelas.

Jika Anda merasa menjadi “kerdil” secara profesional dan kehilangan semangat belajar karena suasana kantor, mungkin sudah saatnya mencari ladang baru yang lebih subur.

Ingatlah bahwa tidak ada gaji yang sebanding dengan kesehatan mental Anda.

Mendeteksi tanda-tanda ini sejak dini dapat menyelamatkan Anda dari stres berkepanjangan.

Jika 5 tanda di atas sudah Anda rasakan, mulailah perbarui CV Anda dan carilah tempat di mana Anda dihargai sebagai manusia, bukan sekadar alat produksi.

Baca Juga: Jangan Asal Resign! Pastikan Dulu: Kantornya yang Toxic atau Kamu yang Punya “Victim Mentality”?

(*Mira)