Masyarakat biasanya menggunakannya untuk pemanis kue tradisional, penyedap masakan khas Rote, atau bahkan dimakan langsung sebagai camilan.
4. Gula Batu
Meskipun bahan dasarnya sama dengan gula pasir yaitu air tebu, Gula Batu memiliki tempat tersendiri dalam budaya minum teh di Indonesia, khususnya di wilayah Cirebon dan Tegal.
Gula ini dibuat melalui proses kristalisasi air tebu selama berhari-hari.
Bentuknya menyerupai bongkahan batu kristal yang bening atau kekuningan.
Keunggulan gula batu terletak pada rasa manisnya yang lebih lembut (mild) dan tidak “menggigit” tenggorokan seperti gula pasir biasa.
Karena itulah, gula batu menjadi teman sejati untuk menyeduh teh poci (teh tubruk) agar rasa teh tetap menonjol.
Selain itu, gula batu juga dipercaya lebih melegakan tenggorokan dan sering digunakan dalam campuran ramuan obat tradisional China.
5. Gula Semut
Gula Semut sebenarnya bukanlah “jenis” tanaman baru, melainkan inovasi bentuk pengolahan dari gula merah atau gula aren.
Namanya diambil karena bentuknya yang berupa butiran-butiran kecil mirip sarang semut di tanah.
Bahan dasarnya bisa berasal dari nira kelapa ataupun nira aren yang dikeringkan dan dihaluskan.
Ciri khasnya tentu saja bentuknya yang berupa serbuk atau granula kering.
Inovasi ini membuat gula semut lebih praktis karena tidak perlu disisir, mudah larut, dan lebih tahan lama karena kadar airnya yang rendah.
Kini gula semut menjadi komoditas ekspor andalan dan sangat praktis digunakan untuk taburan oatmeal, pemanis kopi harian, atau bahan kue (baking) sebagai pengganti brown sugar.
Ternyata, rasa “manis” di Indonesia memiliki banyak wajah dan karakter.
Memilih jenis gula yang tepat tidak hanya memengaruhi rasa masakan, tetapi juga turut melestarikan warisan kuliner petani lokal kita.
Jadi, jenis gula mana yang selalu tersedia di dapur Anda?
Baca Juga: Lapar di Jam Tanggung? Ini 5 Cemilan Penahan Lapar yang Bikin Kenyang Lebih Lama
(*Mira)
















