Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dalam dunia kesehatan mental, kita sering mendengar nasihat: “Validasi perasaanmu, itu wajar kok,” atau “It’s okay not to be okay.”
Nasihat ini benar adanya. Menolak atau menekan emosi memang tidak sehat.
Namun, seperti halnya obat, dosis yang berlebihan justru bisa menjadi racun.
Ada garis tipis antara memvalidasi perasaan (mengakui keberadaannya) dengan memanjakan perasaan (tenggelam di dalamnya tanpa usaha bangkit).
Ketika kita terlalu sering memvalidasi setiap emosi negatif tanpa diimbangi dengan logika dan aksi, kita berisiko terjebak dalam siklus yang merugikan.
Berikut adalah 5 bahaya jika Anda terlalu sering memvalidasi perasaan secara berlebihan.
1. Terjebak dalam Emotional Reasoning (Perasaan Dianggap Fakta)
Bahaya terbesar adalah ketika Anda mulai menganggap perasaan Anda sebagai fakta mutlak. Ini disebut emotional reasoning.
Contohnya: “Aku merasa bodoh, berarti aku memang bodoh,” atau “Aku merasa orang-orang membenciku, berarti mereka memang benci.”
Jika Anda terus memvalidasi perasaan ini tanpa menantangnya dengan bukti nyata, Anda akan hidup dalam realitas palsu yang Anda ciptakan sendiri.
Ingat, perasaan adalah sinyal, bukan fakta.
2. Menghambat Kemampuan Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Validasi berlebihan sering kali membuat seseorang berhenti di fase “merasakan”.
Anda sibuk mengelus dada dan berkata “kasihan sekali diri ini,” namun lupa untuk bertanya “lalu, apa solusinya?”
Jika setiap kali menghadapi masalah Anda hanya fokus memvalidasi rasa sedih atau kecewa, Anda akan kehilangan momentum untuk bertindak.
Energi habis untuk meratapi, bukan untuk memperbaiki situasi. Validasi seharusnya menjadi pintu masuk, bukan tempat tinggal.
3. Membangun Mentalitas Korban (Victim Mentality)
Terus-menerus memvalidasi rasa sakit hati, terutama yang disebabkan oleh orang lain, bisa memupuk mentalitas korban.
Anda akan merasa dunia selalu jahat kepada Anda dan Anda tidak punya kendali atas hidup sendiri.
Narasi seperti “Wajar aku begini, kan aku punya trauma,” jika diulang terus-menerus tanpa upaya penyembuhan, hanya akan menjadi tameng untuk tidak bertanggung jawab atas masa depan Anda sendiri.
Anda menjadi pasif dan menunggu orang lain yang berubah, bukan diri sendiri.
4. Menurunkan Ketahanan Mental (Resilience)
Otot mental, sama seperti otot fisik, perlu dilatih dengan sedikit tekanan.
Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id
















