Obati Hati yang Patah di Atas Awan: 5 Alasan Mengapa Gunung Jadi Pelarian Terbaik Saat Putus Cinta

"Galau karena putus cinta? Jangan cuma diam di kamar. Simak 5 alasan psikologis kenapa naik gunung bisa jadi obat paling ampuh untuk menyembuhkan patah hati."
Galau karena putus cinta? Jangan cuma diam di kamar. Simak 5 alasan psikologis kenapa naik gunung bisa jadi obat paling ampuh untuk menyembuhkan patah hati. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Putus cinta sering kali membuat dunia terasa runtuh.

Bagi sebagian orang, mengurung diri di kamar sambil mendengarkan lagu sedih adalah fase wajib.

Namun, belakangan ini ada tren menarik di kalangan anak muda: saat hati sedang hancur, mereka justru mengepak ransel, memakai sepatu bot, dan lari ke hutan.

Istilah “muncak untuk melupakan” bukan sekadar isapan jempol.

Alam raya, khususnya gunung, seolah memiliki magis tersendiri untuk menyembuhkan luka batin yang tidak bisa dilakukan oleh hingar-bingar kota.

Baca Juga: Lagu ’33X’ Perunggu Adalah Pelukan untuk Kamu yang Merasa Tertinggal

Mengapa mendaki gunung menjadi terapi favorit para “pejuang move on“? Berikut 5 alasannya:

1. Detoks Digital Secara Paksa (No Signal, No Stalking)

Musuh terbesar saat baru putus cinta adalah keinginan untuk memantau media sosial mantan.

Melihat postingan mereka bisa memicu luka baru.

Di gunung, terutama di jalur pendakian yang terpencil, sinyal seluler sering kali hilang total.

Kondisi blank spot ini memaksa Anda untuk benar-benar lepas dari dunia maya.

Tanpa notifikasi dan akses internet, otak Anda dipaksa beristirahat dari obsesi digital, memberikan ruang bagi hati untuk bernapas lega tanpa gangguan.

2. Mengalihkan Rasa Sakit Hati Menjadi Kelelahan Fisik

Ada pepatah di kalangan pendaki: “Biarkan kakimu yang sakit, bukan hatimu.”

Trek menanjak yang menyiksa, beban tas karier yang berat, dan nafas yang tersengal-sengal akan mengalihkan fokus otak Anda.

Rasa sakit emosional yang abstrak perlahan tergantikan oleh tantangan fisik yang nyata.

Selain itu, aktivitas fisik berat memicu tubuh memproduksi hormon endorfin (hormon kebahagiaan) yang secara alami meredakan stres dan kesedihan.

3. Menyadari Bahwa Masalah Kita Sangat Kecil

Saat berdiri di puncak gunung, memandang samudra awan dan hamparan bumi yang luas, terjadi pergeseran perspektif yang luar biasa.

Anda akan merasa betapa kecilnya diri Anda di hadapan semesta.

Perasaan “kerdil” ini secara ajaib membuat masalah putus cinta yang tadinya terasa sebesar gunung, tiba-tiba menyusut menjadi kerikil kecil.

Alam mengajarkan bahwa hidup terus berjalan dan dunia terlalu indah hanya untuk ditangisi karena satu orang.

4. Membangun Kembali Rasa Percaya Diri

Putus cinta sering kali menghancurkan harga diri.

Kita merasa tidak berharga atau gagal.

Namun, keberhasilan menaklukkan puncak gunung setelah berjam-jam berjuang melawan dingin dan Lelah memberikan suntikan rasa bangga yang masif.

Momen ketika Anda mencapai puncak adalah validasi bahwa Anda kuat, Anda tangguh, dan Anda mampu bertahan hidup sendirian.

Keyakinan ini adalah modal paling berharga untuk bangkit kembali menata hati.

5. Kesunyian yang Jujur untuk Berdialog dengan Diri Sendiri

Di kota, kita terlalu sibuk mendengarkan suara orang lain.

Di gunung, di tengah kesunyian hutan yang hanya dipecahkan oleh suara angin dan serangga, Anda akhirnya bisa mendengar suara hati sendiri.

Gunung memberikan ruang aman untuk menangis sekeras-kerasnya tanpa dihakimi, atau sekadar merenung mengevaluasi hubungan yang lalu dengan pikiran yang lebih jernih.

Kedamaian inilah yang sering kali membawa pada penerimaan (acceptance) yang tulus.

Kesimpulan

Gunung tidak serta merta menghapus ingatan tentang dia, tetapi gunung memberikan kekuatan baru untuk menghadapi kenangan tersebut tanpa rasa sakit yang berlebihan.

Jadi, jika hari ini hatimu patah, cobalah mendaki.

Mungkin jawaban yang kamu cari tidak ada di layar ponselmu, tapi ada di ujung jalan setapak itu.

Baca Juga: Dari Jendela Kafe: 4 Alasan Kenapa Hujan di Perkotaan Selalu Terasa Romantis

(*Mira)