Biaya tinggi ini, lanjutnya, mendorong terjadinya praktik transaksional yang koruptif setelah kandidat terpilih.
“Para kandidat sering terjebak dalam lingkaran pemodal, yang kemudian menuntut imbal balik berupa proyek. Inilah akar dari banyak kasus korupsi di daerah,” ujarnya.
Fitroh menegaskan bahwa korupsi selalu berawal dari niat jahat, meskipun seringkali dibungkus dengan dalih kebutuhan politik atau budaya yang permisif.
Untuk mencegah korupsi di daerah, ia menekankan bahwa pencegahan harus dimulai dari kesadaran diri dan komitmen moral.
Baca Juga: Pengembangan Kasus OTT Gubernur Riau, Rumah Dinas Abdul Wahid Digeledah
Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan internal, transparansi anggaran, serta pemanfaatan teknologi digital seperti e-procurement, e-planning, dan e-audit.
Selain integritas, Fitroh menilai pemimpin juga harus memiliki kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
“Puncak kualitas seorang pemimpin adalah kebijaksanaan,” ucap dia.
(*Red)
















