Saat Dunia Tidur, Gen Z Berkarya: 5 Alasan Mereka Jagoan Tengah Malam

"Saat dunia tidur, Gen Z justru berkarya. Temukan 5 alasan psikologis dan biologis mengapa mereka adalah 'jagoan' produktif di tengah malam."
Saat dunia tidur, Gen Z justru berkarya. Temukan 5 alasan psikologis dan biologis mengapa mereka adalah 'jagoan' produktif di tengah malam. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

Saat kebanyakan orang sudah terlelap, banyak dari Generasi Z (Gen Z) justru baru memasuki flow state mereka. Laptop menyala, headphone terpasang, dan ide-ide mengalir deras.

Fenomena produktif tengah malam ini sering disalahartikan sebagai kebiasaan begadang yang tidak sehat atau kemalasan di siang hari.

Padahal, ada alasan psikologis, biologis, dan lingkungan yang lebih dalam mengapa Gen Z sering menemukan puncak produktivitas mereka justru saat dunia sedang terdiam.

Baca Juga: Sulit Tidur? Ini 10 Tips Ampuh Mengusir Insomnia untuk Tidur yang Berkualitas

Bagi mereka, malam hari bukanlah akhir dari hari, melainkan awal dari waktu fokus.

Berikut adalah 5 alasan utama mengapa Gen Z seringkali lebih produktif saat tengah malam.

1. Jam Biologis yang Berbeda (Delayed Sleep Phase)

Alasan paling ilmiah adalah chronotype atau jam biologis tubuh.

Banyak remaja dan orang dewasa muda secara alami mengalami Delayed Sleep Phase Syndrome (DSPS).

Ini berarti jam internal mereka berjalan “lebih malam” dibanding generasi yang lebih tua.

Tubuh mereka tidak memproduksi melatonin (hormon tidur) hingga larut malam, dan puncaknya, kewaspadaan mental mereka justru baru optimal di atas jam 10 malam.

Memaksa mereka produktif pukul 8 pagi sama sulitnya dengan meminta early bird untuk fokus pada jam 11 malam.

Bagi mereka, tengah malam adalah pagi biologis mereka.

2. Dunia Akhirnya Hening (Minim Distraksi)

Siang hari adalah neraka distraksi.

Ada notifikasi media sosial yang tak henti, ajakan teman, panggilan telepon, kebisingan keluarga di rumah, atau hiruk pikuk di tempat umum.

Otak Gen Z, yang terbiasa dengan multitasking, justru kesulitan menemukan waktu untuk deep work (kerja fokus).

Saat tengah malam tiba, semua kebisingan itu berhenti.

Tidak ada email baru yang masuk, grup chat sepi, dan rumah menjadi tenang.

Keheningan ini adalah kemewahan yang memungkinkan mereka untuk fokus penuh pada satu tugas, baik itu mengerjakan tugas kuliah, coding, atau membuat desain.

3. Tekanan Sosial Menghilang, Kreativitas Muncul

Malam hari menawarkan kebebasan psikologis.

Tidak ada ekspektasi untuk segera membalas pesan atau terlihat sibuk.

Tidak ada mata yang mengawasi.

Tekanan sosial yang berkurang ini menciptakan ruang aman bagi kreativitas.

Bagi banyak Gen Z, malam hari adalah waktu untuk berpikir bebas, bereksperimen dengan ide-ide baru, atau melakukan hobi tanpa merasa dihakimi.

Suasana yang tenang dan sedikit gelap sering dianggap lebih kondusif untuk berpikir reflektif dan kreatif dibandingkan dengan cahaya siang hari yang terang dan penuh tuntutan.

4. Kultur Selalu Online dan Kehidupan Sosial Digital

Gen Z adalah digital native.

Kehidupan sosial mereka seringkali berpusat di dunia digital, yang puncaknya justru terjadi di malam hari—baik itu bermain game online, streaming, atau sekadar scrolling di media sosial.

Karena mereka sudah terbiasa terjaga dan online untuk bersosialisasi di jam-jam ini, mengalihkan fokus dari bersosialisasi ke produktif tidak terasa seperti lompatan besar.

Energi mental mereka memang sudah disetel untuk aktif pada jam-jam tersebut.

5. Efek Panic Monster (Procrastination)

Ini adalah alasan yang mungkin paling jujur: Prokrastinasi.

Setelah menunda pekerjaan sepanjang hari karena berbagai alasan (termasuk distraksi pada poin #2), tengah malam adalah “jam kesebelas” atau the eleventh hour.

Rasa panik karena deadline yang sudah di depan mata (besok pagi) memicu adrenalin.

Rasa cemas ini, ironisnya, memberikan suntikan fokus yang luar biasa.

Malam hari menjadi satu-satunya waktu tersisa untuk menyelesaikan apa yang seharusnya dikerjakan berjam-jam lalu, memaksa otak untuk bekerja lebih efisien di bawah tekanan.

Baca Juga: Playlist Santai: 5 Lagu Bahasa Inggris Terbaik untuk Mengusir Insomnia

(*Mira)