Ia meyakini bahwa pendidikan adalah kunci utama dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul dan siap bersaing.
“Semoga keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi para pendidik lain di Pontianak agar terus berinovasi, berani mencoba hal baru, dan tidak berhenti belajar,” ungkapnya.
Dedikasi Yudha diakui UNESCO melalui studi kasusnya yang berjudul ‘Transforming English Learning with AI: A Case Study on Google’s LM Notebook in Junior High School 13 Pontianak, Indonesia’.
Metode yang ia kembangkan berfokus pada penyajian materi melalui cerita interaktif yang dirangkum.
“Ceritanya dibuat dengan AI dan interaktif,” terang Yudha.
Tak hanya berprestasi dalam mengajar, Guru SMPN 13 Pontianak ini juga merupakan seorang inovator ulung.
Ia adalah inisiator sistem digital Educational Serial Book Number (ESBN), sebuah sistem identifikasi unik untuk buku pendidikan.
“ESBN ini adalah sistem identifikasi unik untuk buku-buku pendidikan yang berfungsi serupa dengan ISBN,” tuturnya.
Kiprah Yudha tidak berhenti di situ. Ia mendirikan Virtual Education Academy (VEA), sebuah perusahaan sosial yang fokus pada pemberdayaan guru dan dosen melalui peningkatan keterampilan teknologi.
“Program utama VEA antara lain pelatihan penggunaan berbagai perangkat Microsoft, termasuk penyediaan dua juta akun premium pendidikan bagi guru dan siswa,” jelasnya.
Melalui VEA, Yudha juga telah menginisiasi pelatihan pembuatan Buku Digital Interaktif Multimodal yang telah menghasilkan 680 judul buku.
Baca Juga: Tingkatkan Mutu Pendidikan, Wabup Kayong Utara Apresiasi Kontribusi Pengajar Muda
Saat ini, ia dipercaya memegang jabatan penting sebagai Presiden Indonesian Literacy Association dan Pembina Mata Garuda LPDP Kalimantan Barat.
(*Red/Prokopim)
















