Namun, Netty juga menekankan tantangan komunikasi dan kebijakan yang dapat mempengaruhi penerimaan masyarakat terhadap pembangunan PLTN, serta isu lingkungan terkait pengelolaan limbah radioaktif. Dia berharap agar semua pihak mendengarkan berbagai perspektif dalam proses perencanaan dan pembangunan PLTN ini.
Baca Juga: Wacana Pembangunan Reaktor Nuklir Mini di Kalimantan Barat: Peluang Energi atau Tantangan Baru?
Di sisi lain, Walhi Kalbar melalui Direktur Hendrikus Adam menegaskan risiko besar dari pembangunan PLTN di Bengkayang. Adam mengingatkan bahwa teknologi nuklir memiliki risiko yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan, bahkan oleh negara-negara maju sekalipun. Ia juga mengkritik kurangnya transparansi dari pemerintah dalam mensosialisasikan proyek ini kepada masyarakat, serta menyoroti potensi ancaman bencana alam seperti gempa dan banjir di wilayah tersebut.
Adam lebih lanjut menyatakan bahwa fokus harus dialihkan pada pengembangan energi terbarukan yang lebih aman, murah, dan ramah lingkungan, seperti tenaga surya, air, dan biomassa, daripada melanjutkan proyek PLTN yang berisiko tinggi.
Jurnalis senior Kalimantan Barat, Andi Fahrizal, juga menyampaikan pandangannya mengenai transparansi pembahasan Perda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Barat 2024-2043, yang secara tidak langsung menyebutkan rencana pembangunan PLTN. Menurut Andi, pembahasan perda tersebut dilakukan secara tertutup, dan hal ini menjadi perhatian penting bagi jurnalis untuk menjaga transparansi dalam pemberitaan terkait isu nuklir.
Andi juga menyoroti bahwa pemberitaan mengenai isu nuklir di media lokal Kalbar masih terbatas, dengan media seperti Pontianak Post dan Tribun Pontianak hanya sedikit mengangkat isu ini. Oleh karena itu, ia mendorong jurnalis untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang isu-isu teknis seperti ini agar dapat menyajikan informasi yang lebih mendalam kepada masyarakat.
Sarasehan yang digelar AJI Pontianak dan Traction Energy Asia membuka ruang diskusi yang penting tentang potensi dan tantangan pembangunan PLTN di Kalimantan Barat. Diharapkan melalui kegiatan ini, masyarakat dan jurnalis dapat memperoleh informasi yang lebih objektif dan berbasis data, serta terlibat dalam pengambilan keputusan yang transparan mengenai masa depan energi di Kalimantan Barat.
Baca Juga: Kalbar Miliki Cadangan Nuklir Cukup Besar, AS Kucurkan Riset US$9 Juta
















