Sinergi Pelestarian Bahasa Melayu untuk Pembentukan Karakter Generasi Muda Kota Singkawang
Faktakalbar.id - Penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 menjadi momentum krusial dalam memperkuat pembentukan karakter generasi muda di Kota Singkawang pada Selasa.
Faktakalbar.id - Penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 menjadi momentum krusial dalam memperkuat pembentukan karakter generasi muda di Kota Singkawang pada Selasa.
Kegiatan pelestarian kebudayaan Melayu yang berlangsung di Rumah Melayu tersebut dirangkai untuk menyemarakkan peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Singkawang.
Selain merayakan ulang tahun kota, ajang edukatif ini sekaligus digelar dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Sastra.
Pelestarian bahasa daerah dinilai tidak sekadar menjaga warisan leluhur, melainkan instrumen vital dalam menanamkan adab serta kesantunan siswa.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Singkawang Asmadi menegaskan pentingnya penanaman nilai budaya lokal dalam lingkungan pendidikan.
“Komitmen membangun generasi muda melalui bahasa dan budaya perlu terus diperkuat,” ujarnya saat menutup kegiatan secara resmi.
Asmadi menilai nilai adat istiadat yang terkandung dalam budaya daerah sangat penting untuk membentuk generasi berakhlak dan berpengetahuan.
Menurutnya, proses menjaga kelestarian bahasa lokal membutuhkan kerja sama erat dan berkelanjutan dari seluruh elemen masyarakat daerah.
Pemerintah kota mendorong keterlibatan Dewan Pendidikan, tokoh adat, serta praktisi kebudayaan untuk mendampingi pembelajaran di sekolah.
Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar upaya pelestarian budaya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata di atas panggung.
Pihak dinas menginginkan agar pengajaran bahasa daerah masuk secara konsisten dalam kurikulum muatan lokal sekolah.
Berbagai perlombaan seperti pidato, pantun, dan Tundang Sari menjadi sarana efektif dalam mengasah keberanian serta adab berkomunikasi murid.
Generasi muda diharapkan mampu memegang teguh jati diri kebudayaan lokal di tengah gempuran perubahan zaman yang cepat.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa penanaman nilai kesantunan berbasis budaya daerah masih sangat relevan diterapkan di sekolah.
Melalui festival ini, Singkawang membuktikan komitmennya dalam mencetak generasi cerdas yang tetap memegang teguh akar kebudayaan daerah.
Pelestarian adat dan kesantunan dinilai menjadi benteng utama siswa dalam menyaring pengaruh luar.
Praktisi budaya lokal turut dilibatkan secara aktif untuk memberikan bimbingan teknik bersastra kepada para pelajar.
Sinergi ini diharapkan mampu menjaga identitas kebudayaan Singkawang agar tetap lestari hingga masa mendatang.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.