Sejarah Kelam Uranium di Kalan, Sembilan Warga Meninggal dalam Tragedi yang Tak Terlupakan
Faktakalbar.id — Tragedi meninggalnya sembilan warga di sepanjang DAS Kalan pada Agustus 1997 menjadi catatan kelam sejarah eksplorasi uranium di Kalimantan Barat. Dugaan pencemaran limbah uranium masih menyisakan pertanyaan tentang keselamatan warga.
Faktakalbar.id — Tragedi meninggalnya sembilan warga di sepanjang DAS Kalan pada Agustus 1997 menjadi catatan kelam sejarah eksplorasi uranium di Kalimantan Barat. Dugaan pencemaran limbah uranium masih menyisakan pertanyaan tentang keselamatan warga.
Morphi (nama samaran) menilai tragedi tersebut perlu diungkap secara terbuka. “Sejarah ini harus ditelusuri agar masyarakat mendapatkan kejelasan dan kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Dalam buku BATAN Siluman di Kalan, Simon warga Kahiya, mengungkapkan sejumlah warga mengalami muntaber dan gatal-gatal sebelum meninggal.
Sementara itu berdasarkan laporan dari D. uyub dan hasil pengolahan data di lapangan terdapat puluhan warga lainnya juga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan.
Masyarakat menduga penyakit tersebut berkaitan dengan pencemaran sungai akibat kegiatan eksplorasi dan pengolahan uranium di Kalan.
Rahamlan menjelaskan bahwa kegiatan BATAN mencakup eksplorasi, penelitian cadangan uranium, serta kajian pengolahan bijih dan lingkungan.
Menurut Rahamlan, penelitian uranium juga mencakup aspek limbah dan lingkungan. Namun, dugaan pencemaran yang dikeluhkan warga masih perlu ditelusuri.
Warga DAS (Daerah Aliran Sungai) Kalan mengandalkan sungai untuk kebutuhan sehari-hari sehingga dugaan pencemaran menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan mereka.
Kematian sembilan warga meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan menjadi pengingat pentingnya keselamatan masyarakat dalam kegiatan eksplorasi.
Pada tahun 2006, Pemerintah Kabupaten Melawi dan DPRD setempat turut meminta penjelasan mengenai kegiatan BATAN di Kalan.
Hubungan antara limbah uranium dan kematian beberapa warga menjadi persoalan dan terkadang menimbulkan rasa takut serta khawatir dari warga lainnya.
Pemeriksaan lingkungan dan kajian kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebab kejadian serta kondisi kawasan bekas penelitian uranium.
Tragedi Kalan menjadi pengingat bahwa sejarah eksplorasi sumber daya alam juga harus mencatat keselamatan warga dan kejelasan nasib para korban.
Morphi menegaskan, “Jangan sampai penderitaan warga hanya menjadi catatan sejarah tanpa adanya kejelasan dan pencegahan, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.”
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.