Rupiah Anjlok ke Level Rp 17.861 per Dolar AS, Tertekan Rebalancing MSCI dan IKK
Penunjukan Plt Gubernur BI Destry Damayanti Tahan Penurunan Ditengah Panasnya Selat Hormuz
Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp 17.861 per dolar AS pada Selasa (11/8/2026). Penurunan ini dipicu oleh kecemasan jelang rebalancing MSCI, penurunan IKK, serta konflik AS-Iran.
Faktakalbar.id - Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup anjlok pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 106 poin atau 0,60 persen ke posisi Rp 17.861 per dolar AS. Posisi ini melemah dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.755 per dolar AS.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penurunan rupiah dipengaruhi oleh sikap waspada pelaku pasar terhadap agenda tinjauan indeks MSCI untuk Agustus 2026 yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026.
Selain itu, sentimen negatif domestik turut diperberat oleh rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 dari Bank Indonesia yang menurun ke level 116,8—posisi terendah sejak September 2025. Meski demikian, tekanan pelemahan rupiah sedikit tertahan oleh respons positif pasar atas langkah Presiden Prabowo Subianto yang menunjuk Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI pengganti Perry Warjiyo.
Dari faktor eksternal, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling menuntut kompensasi atas serangan militer dan memperebutkan status penutupan Selat Hormuz. Ancaman serangan kelompok Houthi terhadap kilang minyak Saudi Aramco di Laut Merah juga makin memperkeruh eskalasi geopolitik global.
Kini, perhatian pelaku pasar global tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk mengukur arah kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan September mendatang.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.