Ruang Publik Pontianak Dinilai Bisa Jadi Wadah Pelestarian Seni dan Budaya Lokal
Faktakalbar.id – Ruang publik di Pontianak dinilai memiliki potensi untuk menjadi tempat pengembangan seni dan budaya lokal, seiring upaya menjaga identitas kota di tengah perubahan kehidupan masyarakat.
Faktakalbar.id – Ruang publik di Pontianak dinilai memiliki potensi untuk menjadi tempat pengembangan seni dan budaya lokal, seiring upaya menjaga identitas kota di tengah perubahan kehidupan masyarakat.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai penataan kawasan waterfront, taman, dan fasilitas umum dapat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk lebih dekat dengan kegiatan kebudayaan.
Pandangan tersebut disampaikan Edi saat membahas pemajuan kebudayaan dalam Rembuk Sektor Kebudayaan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 yang berlangsung di Singkawang pada 14–18 Oktober 2026.
“Budaya itu identitas kota. Tantangannya sekarang bagaimana budaya tidak hanya kita simpan sebagai warisan, tetapi terus hidup, dikenal generasi muda dan bisa memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya, Jumat (16/10/2026).
Pontianak memiliki karakter budaya yang terbentuk dari sejarah Kesultanan Pontianak, keberadaan Sungai Kapuas, keberagaman masyarakat, kuliner, dan seni tradisi yang berkembang di tengah kehidupan perkotaan.
Menurut Edi, keberadaan potensi tersebut perlu didukung ruang yang memadai agar kegiatan budaya dapat melibatkan lebih banyak masyarakat, termasuk generasi muda.
“Kita juga punya kekayaan yang besar. Tinggal bagaimana ruangnya kita perkuat, pelaku budayanya kita libatkan, kemudian dikemas dengan baik tanpa menghilangkan nilai dan keasliannya,” katanya.
Penataan ruang publik dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menghadirkan aktivitas seni dan budaya di luar ruang pertunjukan formal.
Namun, pengembangan ruang publik berbasis budaya juga membutuhkan keterlibatan komunitas seni dan pelaku budaya agar kegiatan yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta tidak menghilangkan karakter tradisi setempat.
Edi menilai pembangunan kota dan kebudayaan saling berkaitan karena ruang perkotaan dapat menjadi tempat pertemuan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Ia juga menyoroti pentingnya pertukaran pengalaman antarkota dalam mengembangkan kebudayaan sesuai karakter daerah masing-masing.
“Setiap kota punya keunggulan sendiri. Kita bisa belajar dari Singkawang, begitu pula kota lain bisa belajar dari Pontianak. Forum seperti ini penting supaya pembangunan kebudayaan tidak berjalan sendiri-sendiri,” katanya.
Rembuk Budaya APEKSI 2026 menjadi forum bagi pemerintah kota untuk bertukar gagasan dan praktik dalam pemajuan kebudayaan.
Edi berharap pertemuan tersebut dapat mendorong kerja sama yang lebih konkret, termasuk pertukaran pelaku seni, promosi budaya, dan penyelenggaraan festival bersama.
“Kalau budaya kita rawat, masyarakatnya ikut bangga. Kalau kemudian dikembangkan dengan kreatif, budaya juga bisa menjadi kekuatan ekonomi dan daya tarik kota. Yang paling penting, generasi berikutnya tetap mengenal siapa mereka dan dari mana kotanya tumbuh,” pungkasnya.
Keberhasilan pengembangan ruang publik sebagai wadah kebudayaan nantinya bergantung pada konsistensi pelaksanaan program, keterlibatan komunitas, serta akses masyarakat terhadap kegiatan seni dan tradisi lokal.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.