Kontroversi Opening Ceremony Olimpiade Paris 2024: Kritik dari Kelompok Konservatif
Upacara pembukaan Olimpiade Paris 2024 menuai kontroversi tajam, terutama dari kalangan konservatif dan kelompok religius di Amerika Serikat dan berbagai negara lain. Penyebab utamanya adalah penampilan drag yang menyerupai "Perjamuan Terakhir" karya Leonardo da Vinci, yang dianggap tidak pantas oleh sejumlah kritikus.
Dalam segmen fashion show, upacara tersebut menampilkan aktor dan penyanyi Prancis, Philippe Katerine, sebagai Dewa Yunani Dionysus, dengan tubuh dicat biru dan hanya ditutupi bunga. Namun, yang paling memicu kemarahan adalah adegan yang menyerupai "Perjamuan Terakhir", di mana tokoh Yesus digantikan oleh seorang wanita gemuk, sementara figur queer dan trans (termasuk seorang anak) menggambarkan para rasulnya.
Kritikus konservatif, termasuk mantan pengacara kampanye 2020 Donald Trump, Jenna Ellis, mengutuk adegan tersebut di media sosial, menyebutnya mengandung "simbolisme pagan dan setan yang terang-terangan."
Sutradara artistik upacara pembukaan, Thomas Jolly, mempertahankan produksinya dalam konferensi pers Sabtu lalu, menyatakan bahwa tujuan utama mereka adalah menampilkan inklusi. "Kami ingin berbicara tentang keragaman. Keragaman berarti bersama-sama," jelasnya. Jolly juga menekankan bahwa mereka tidak berniat untuk menjadi subversif, tetapi ingin mengekspresikan kebebasan artistik yang dimiliki Prancis.
Kontroversi ini mencerminkan ketegangan yang berkelanjutan antara ekspresi artistik bebas dan nilai-nilai konservatif, serta bagaimana perbedaan pandangan budaya dan religius dapat mempengaruhi persepsi publik terhadap acara internasional besar seperti Olimpiade.(ro)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.