Kabut Asap Semakin Menebal, Air Bersih Menipis di Pontianak
Faktakalbar.id - Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat turut memperburuk dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memicu kesulitan air bersih bagi masyarakat.
Faktakalbar.id - Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat turut memperburuk dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memicu kesulitan air bersih bagi masyarakat.
Kondisi tersebut dirasakan warga melalui kabut asap yang semakin tebal, menurunnya jarak pandang, hingga perubahan kualitas air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Bon Yit Ha mengatakan kondisi kabut asap semakin terasa dalam beberapa hari terakhir, terutama ketika asap mulai pekat pada pagi dan malam hari.
“Kalau asap semakin tebal, aktivitas di luar rumah juga terganggu. Jarak pandang berkurang,” kata Bon Yit Ha.
Selain mengganggu aktivitas warga, kemarau panjang juga menyebabkan debit air menurun di sejumlah wilayah sehingga ketersediaan air bersih semakin terbatas.
Minah mengatakan air ledeng di sejumlah wilayah mulai terasa asin dan payau sehingga warga harus mencari sumber air lain untuk kebutuhan konsumsi.
“Air ledeng sekarang terasa payau. Untuk minum dan memasak, kami harus mencari air yang lebih bersih,” ujar Minah.
Keterbatasan pasokan turut berdampak pada harga air bersih yang harus dibeli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Harga air galon di sejumlah wilayah disebut mencapai Rp20 ribu per galon, bahkan di beberapa tempat dilaporkan mencapai Rp25 ribu.
Kondisi tersebut menambah beban pengeluaran warga karena air bersih menjadi kebutuhan utama untuk minum dan memasak.
Ketika bantuan air bersih datang, warga mendatangi lokasi pembagian dengan membawa galon dan berbagai wadah untuk mendapatkan pasokan.
Sebagian warga bahkan harus mengantre selama berjam-jam karena jumlah air yang tersedia terbatas dibandingkan kebutuhan masyarakat.
Situasi tersebut menunjukkan dampak kemarau tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya risiko karhutla dan kabut asap, tetapi juga berpengaruh terhadap ketersediaan air bersih.
Kabut asap yang semakin tebal membuat aktivitas warga terganggu, sementara berkurangnya pasokan air memaksa sebagian masyarakat mencari sumber air alternatif.
Warga berharap penanganan karhutla dapat diperkuat bersamaan dengan upaya memastikan ketersediaan air bersih selama kemarau berlangsung.
Masyarakat juga berharap hujan segera turun untuk membantu mengurangi titik kebakaran serta memulihkan sumber air yang terdampak kemarau panjang.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.