Poros Pengabdian Ajaran Baha’i: Materi, Intelektual, dan Spiritual Harus Maju Bersamaan

"Tokoh agama Baha'i, Suyanti April, memaparkan pentingnya keseimbangan kemajuan materi, intelektual, dan spiritual demi peradaban dunia dalam dialog TEPELIMA Kalbar ke-7."
Tokoh agama Baha'i, Suyanti April, memaparkan pentingnya keseimbangan kemajuan materi, intelektual, dan spiritual demi peradaban dunia dalam dialog TEPELIMA Kalbar ke-7. (Dok. Mira/Faktakalbar.id)

“Ketika materinya maju, otomatis harus didukung oleh intelektual yang maju. Intelektual yang maju didukung oleh rohani yang maju pula. Tiga bidang ini berputar di satu poros yang sama untuk memikirkan semua elemen kehidupan,” jelasnya menambahkan.

Di akhir pemaparannya, Suyanti mengingatkan kembali tugas mulia keberadaan manusia di muka bumi. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat lintas agama untuk menyelaraskan ambisi pribadi dengan tujuan pengabdian kolektif.

“Kita harus kembali lagi pada pemahaman bahwa tugas kita sebagai manusia adalah untuk memajukan peradaban dunia. Pengabdian ini adalah bagaimana kita mengabdi kepada umat seutuhnya. Jadi, kalau ditanya bagaimana finansialnya bisa maju, intelektualnya juga harus maju untuk berpikir kreatif, dan pada dasarnya semua ini harus dilandasi oleh kekuatan rohani,” pungkasnya.

Pesan spiritual dari komunitas Baha’i ini memberikan warna tersendiri dalam perhelatan TEPELIMA ke-7.

Menjadi sebuah pengingat bahwa gaya hidup yang berkelanjutan dan ekonomi yang ramah lingkungan hanya bisa terwujud jika manusia menyeimbangkan kecerdasan otak, kekayaan materi, dan kedalaman batinnya untuk mengabdi pada bumi dan peradaban.

Baca Juga: Tepelima Kalbar ke-7: Mempererat Lintas Iman Melalui Isu Lingkungan dan Ruang Inklusif

(Mira)