Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Jika Anda pernah mendengarkan alunan musik tradisional dari tanah Borneo, Anda pasti tidak asing dengan suara petikan yang menenangkan, magis, dan seolah membawa pikiran menyatu dengan alam.
Suara indah tersebut berasal dari Sape (atau sering dieja Sape’), alat musik petik kebanggaan masyarakat adat Dayak di Kalimantan, termasuk di wilayah Kalimantan Barat.
Seiring berjalannya waktu, Sape tidak lagi hanya dimainkan di dalam rumah betang. Alat musik ini telah merambah panggung internasional dan sering dipadukan dengan genre musik modern seperti EDM atau jazz.
Bagi Anda yang mengagumi seni dan budaya Nusantara, berikut adalah 5 fakta menarik tentang Sape yang wajib Anda ketahui:
Baca Juga: Pesona Tato Dayak: Bukan Sekadar Seni Tubuh, Ini Makna Mendalam di Baliknya
1. Makna Nama yang Sederhana namun Filosofis
Secara etimologi, kata “Sape” atau “Sampe” dalam bahasa lokal Dayak (khususnya sub-suku Kenyah dan Kayan) memiliki arti “memetik dengan jari”. Penamaan ini merujuk langsung pada cara memainkan alat musik tersebut.
Meskipun cara memainkannya mirip dengan gitar, postur memegang Sape dan teknik memetik dawainya sangat berbeda, sehingga menghasilkan vibes nada yang khas dan syahdu.
2. Berakar dari Ritual Penyembuhan Mistis
Di masa lampau, sebelum menjadi instrumen hiburan, Sape memiliki fungsi spiritual yang sangat sakral.
Alat musik ini sering digunakan dalam ritual penyembuhan tradisional atau yang dikenal dengan upacara Balian.
Bunyi petikan Sape yang mengalun perlahan diyakini mampu menjadi media komunikasi dengan para leluhur dan roh penjaga, sekaligus menjadi sarana untuk mengusir roh jahat yang bersarang di tubuh orang yang sedang sakit.
3. Dibuat dari Kayu Khusus yang Dikeramatkan
Sape tidak bisa dibuat dari sembarang kayu.
Para perajin tradisional umumnya menggunakan kayu Adau, Pelaik, atau Pelantan yang banyak tumbuh di hutan rimba Kalimantan.
Kayu-kayu ini dipilih bukan hanya karena kualitas akustiknya yang menghasilkan resonansi suara yang nyaring dan jernih, tetapi juga karena dianggap memiliki roh atau nyawa yang akan membuat instrumen tersebut lebih “hidup”.
4. Evolusi Dawai dari Alam ke Kawat Baja
Bentuk dan material dawai Sape telah mengalami transformasi yang panjang.
Pada awalnya, Sape hanya memiliki dua hingga tiga dawai yang terbuat dari serat pohon enau atau rotan halus yang dipilin kuat.
Tentu saja, suaranya saat itu tidak sekeras sekarang. Seiring masuknya pengaruh luar, para musisi mulai beralih menggunakan kawat baja atau senar gitar modern (string), dan jumlah dawainya pun bertambah menjadi empat hingga enam untuk memperkaya melodi.
5. Ukiran Penuh Makna Identitas Dayak
Satu hal yang membuat Sape sangat artistik adalah ukiran (carving) yang menutupi permukaan bodinya. Ukiran ini bukan sekadar hiasan estetika.
Motif yang paling sering diukir adalah Burung Enggang (melambangkan keagungan dan kedekatan dengan alam atas) atau motif Aso (naga/anjing mitologi yang melambangkan perlindungan).
Ukiran-ukiran ini menjadi identitas visual yang menegaskan bahwa Sape adalah mahakarya seni yang tak terpisahkan dari urat nadi budaya Dayak.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Suku Dayak Desa di Sintang: Penjaga Rumah Betang dan Penenun Ulung
(Mira)
















