-
Kelelahan Kronis: Merasa lelah sepanjang waktu meskipun sudah cukup tidur.
-
Mati Rasa Emosional: Merasa sulit untuk benar-benar peduli lagi karena sudah terlalu banyak menyerap emosi orang lain.
-
Perasaan Cemas dan Cepat Marah: Menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal kecil di sekitar.
-
Sulit Berkonsentrasi: Pikiran terasa penuh dengan beban emosional yang sebenarnya bukan milikmu.
Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Seseorang yang terlalu berempati sering kali lupa membedakan antara “memahami” dan “memikul” beban orang lain.
Tanpa sadar, mereka mengambil alih emosi negatif tersebut dan menyimpannya di dalam pikiran sendiri.
Hal ini diperparah di era media sosial, di mana informasi mengenai tragedi atau konflik global masuk ke layar ponsel kita setiap detik, memaksa otak untuk terus-menerus berempati tanpa henti.
Cara Menjaga Keseimbangan
Menjadi orang baik bukan berarti kamu harus menghancurkan diri sendiri.
Penting untuk mempraktikkan self-care dan menetapkan batasan yang tegas. Kamu berhak untuk mengatakan tidak saat merasa kapasitas emosionalmu sudah penuh.
Ingatlah bahwa kamu tidak bisa menolong orang lain jika “tangki” emosionalmu sendiri sedang kosong.
Baca Juga: Kepala BNPB Pastikan Korban Bencana Tempati Huntara di Gayo Lues Sebelum Lebaran
(Mira)
















