Kecepatan Bukan Segalanya, Ini 5 Dampak Buruk Jurnalis Kurang Riset Saat di Lapangan

"Kecepatan bukan segalanya. Simak 5 dampak buruk jurnalis kurang riset saat di lapangan, mulai dari berita dangkal hingga runtuhnya kredibilitas."
Kecepatan bukan segalanya. Simak 5 dampak buruk jurnalis kurang riset saat di lapangan, mulai dari berita dangkal hingga runtuhnya kredibilitas. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dunia jurnalistik menuntut kecepatan, namun bukan berarti ketepatan bisa dikesampingkan.

Riset adalah fondasi utama sebelum seorang jurnalis menginjakkan kaki di lokasi peliputan.

Tanpa bekal informasi yang cukup, seorang jurnalis ibarat berjalan di ruang gelap tanpa senter.

Kurangnya riset bukan hanya menyulitkan kerja teknis, tetapi juga berisiko merusak integritas karya jurnalistik itu sendiri.

Baca Juga: 5 Bentuk Pembungkaman Halus di Perusahaan Media yang Jarang Disadari Jurnalis

Bagi jurnalis, riset berfungsi sebagai pemandu untuk menyusun pertanyaan yang tajam dan menggali fakta lebih dalam. Jika diabaikan, dampaknya bisa meluas dari sekadar salah tulis hingga hilangnya kepercayaan publik.

Berikut adalah 5 dampak buruk jurnalis kurang riset saat berada di lapangan:

1. Menghasilkan Informasi yang Dangkal

Tanpa riset, jurnalis cenderung hanya menangkap apa yang terlihat di permukaan saja.

Laporan yang dihasilkan biasanya hanya berisi informasi “apa” dan “siapa”, tanpa mampu menjelaskan “mengapa” dan “bagaimana” secara mendalam.

Tulisan yang dangkal tidak memberikan nilai tambah bagi pembaca dan gagal memenuhi fungsi pers sebagai pemberi edukasi.

2. Terjebak pada Narasi Tunggal

Jurnalis yang kurang riset sering kali hanya bergantung pada pernyataan satu narasumber saja tanpa memiliki perbandingan data sebelumnya.

Hal ini membuat jurnalis mudah “disetir” oleh pihak tertentu yang memiliki kepentingan.

Tanpa data pembanding, berita menjadi tidak berimbang (cover both sides) dan rentan menjadi alat propaganda atau penyebaran informasi sepihak.

3. Mengajukan Pertanyaan yang Kurang Relevan

Sangat memalukan jika seorang jurnalis menanyakan hal-hal dasar yang sebenarnya sudah tersedia di data publik atau rilis pers sebelumnya.

Kurang riset membuat sesi wawancara menjadi tidak efektif.

Narasumber yang kompeten sering kali merasa enggan memberikan informasi lebih dalam jika jurnalis terlihat tidak memahami konteks isu yang sedang dibahas.