Faktakalbar.id, KOBE – Angkatan Laut Bela Diri Jepang (JMSDF) secara resmi mulai mengoperasikan JS Chogei (SS 517), kapal selam serang diesel-elektrik kelima dari kelas Taigei.
Baca Juga: Terlambat 5 Menit karena Macet, Menteri Jepang Berlari ke Rapat Kabinet dan Minta Maaf ke Publik
Kapal selam ini dikenal memiliki keunggulan pada kemampuan deteksi yang lebih tajam namun lebih sulit dideteksi oleh lawan dibandingkan generasi sebelumnya, Selasa (10/03/2026).
JS Chogei diserahkan oleh perusahaan pembuat kapal Mitsubishi Heavy Industries (MHI) di Kota Kobe dan langsung diresmikan ke dalam Divisi Kapal Selam 2 yang bermarkas di Yokosuka.
Pembangunan kapal selam canggih ini menelan biaya sekitar 68,4 miliar yen atau setara 434 juta dolar AS.
Kapal berbobot 3.000 ton ini mengusung teknologi mutakhir, salah satunya adalah penggunaan baterai lithium-ion sebagai pengganti baterai timbal-asam konvensional.
Teknologi ini membuat Jepang menjadi satu-satunya negara di dunia yang telah memasang baterai lithium-ion pada kapal selam serang diesel-elektrik, yang memberikan efisiensi daya dan performa pengisian lebih baik.
Selain sistem tenaga, JS Chogei dilengkapi dengan sonar sonar berkinerja tinggi ZQQ-8 dan sistem manajemen tempur (CMS) terbaru.
Sistem ini mengintegrasikan sensor canggih, komando kontrol, hingga penembakan senjata dalam satu jaringan yang presisi.
Baca Juga: Hanwha Ocean Gandeng Perusahaan dan Universitas Kanada Perkuat Rantai Pasok Kapal Selam Global
Kapal ini juga menggunakan tiang optronik non-penetrasi untuk menggantikan periskop tradisional.
Dalam hal persenjataan, kapal selam kelas Taigei ini dipersenjatai dengan torpedo Tipe 18 terbaru dan mampu meluncurkan rudal anti-kapal UGM-84L Harpoon Block II.
Rudal ini memiliki daya jangkau hingga 248 km, yang memperkuat kemampuan serangan balik Jepang di kawasan perairan strategis.
Menariknya, JS Chogei juga dirancang inklusif dengan menyediakan area akomodasi khusus bagi awak wanita, termasuk ruang tinggal untuk hingga enam personel perempuan.
Hal ini menunjukkan adaptasi JMSDF terhadap keragaman sumber daya manusia di lingkungan militer.
Langkah Jepang memperkuat armada kapal selamnya, yang sering dijuluki sebagai “ninja laut”, dilakukan di tengah meningkatnya aktivitas maritim di kawasan Pasifik Barat.
Kehadiran JS Chogei diharapkan dapat memainkan peran vital dalam memantau dan menjaga stabilitas keamanan di sekitar rantai pulau pertama, terutama merespons perkembangan kekuatan angkatan laut di kawasan tersebut.
(FR)










