Opini  

Dari Isra’ ke Peradaban: Pelajaran Subuh dari Surah Al-Isra (1-111)

Ilustrasi - Refleksi spiritual dari Surah Al-Isra tentang pentingnya tauhid, ilmu, dan akhlak dalam membangun peradaban manusia yang kokoh di era modern. (Dok: Gusti Hardiansyah)
Ilustrasi - Refleksi spiritual dari Surah Al-Isra tentang pentingnya tauhid, ilmu, dan akhlak dalam membangun peradaban manusia yang kokoh di era modern. (Dok: Gusti Hardiansyah)

OPINI – Pada suatu pagi Ramadan yang tenang, selepas salat Subuh di masjid, ketika cahaya matahari belum sepenuhnya menyentuh bumi, kita membaca salah satu surah yang sangat dalam pesan peradabannya: Surah Al-Isra’.

Surah ini sering dikenal sebagai Surah Bani Israil, terdiri dari 111 ayat, dan dibuka dengan kisah yang luar biasa: perjalanan malam Nabi Muhammad ﷺ. Allah berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا Subḥānalladzī asrā bi‘abdihī laylan minal masjidil ḥarāmi ilal masjidil aqṣā… “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…” (QS. Al-Isra’: 1).

Baca Juga: Menjemput Malam Seribu Bulan dengan Hati yang Ikhlas, Refleksi Pengajian Subuh Ramadhan dari Surah Al-Qadr dan Al-Ikhlas

Peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar kisah mukjizat. Ia adalah pesan spiritual besar bagi manusia. Nabi Muhammad ﷺ mengalami perjalanan itu setelah melalui masa yang sangat berat: wafatnya Khadijah, wafatnya Abu Thalib, serta penolakan keras dari masyarakat Mekah.

Di titik terendah itulah Allah membuka jalan langit bagi Rasul-Nya. Di sini kita belajar bahwa ketika manusia berada pada titik paling lelah dalam hidupnya, Allah mampu membuka jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

Ramadan sering menghadirkan pengalaman serupa dalam kehidupan kita. Ketika hati lelah oleh dunia, ketika pikiran penuh oleh pekerjaan dan urusan hidup, Al-Qur’an datang sebagai penyegar jiwa.

Tidak lama setelah ayat Isra’, Allah mengingatkan sejarah sebuah bangsa besar: Bani Israil. Mereka pernah menjadi bangsa yang diberi kitab, nabi-nabi, dan kemuliaan.

Namun sejarah mereka juga menunjukkan sesuatu yang sangat penting: peradaban dapat runtuh ketika moral runtuh. Allah mengingatkan:

“Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk, maka akibatnya kembali kepada dirimu.” (QS. Al-Isra’: 7)

Ayat ini mengandung hukum sosial yang abadi. Tidak ada bangsa yang jatuh karena kekurangan teknologi. Bangsa runtuh karena kerusakan moral, kesombongan, dan ketidakadilan.

Di tengah dunia modern yang sangat maju secara teknologi, pesan ini terasa semakin relevan. Kita hidup di zaman kecerdasan buatan, jaringan digital, dan teknologi luar angkasa.

Namun pada saat yang sama, manusia menghadapi krisis makna hidup, krisis keluarga, dan krisis akhlak. Di sinilah Al-Qur’an memberikan arah yang sangat jelas. Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ Inna hādzal qur’āna yahdī lillatī hiya aqwam. “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)

Kata “aqwam” berarti jalan yang paling seimbang, paling lurus, dan paling kokoh. Artinya, Al-Qur’an tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga membangun fondasi masyarakat yang adil dan beradab.

Surah ini bahkan memuat semacam kode etik kehidupan manusia. Allah memerintahkan manusia untuk berbakti kepada orang tua, menjaga anak-anak dari kemiskinan, menjauhi zina, menjaga amanah, bersikap jujur dalam timbangan, serta tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu.

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tetapi juga agama peradaban.

Salah satu pesan yang sangat menyentuh hati adalah ayat tentang kerendahan hati manusia:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا Wa lā tamsyi fil arḍi maraḥā. “Janganlah kamu berjalan di bumi dengan kesombongan.” (QS. Al-Isra’: 37)

Ayat ini terasa sangat relevan di era modern, ketika manusia sering merasa bahwa ilmu dan teknologi telah membuatnya sangat kuat. Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa kesombongan adalah awal kehancuran manusia. Dalam ayat lain Allah menegaskan:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا Wa mā ūtītum minal ‘ilmi illā qalīlā. “Tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)

Betapa pun majunya ilmu manusia, ia tetap hanya setetes dari samudera ilmu Allah. Di sinilah Al-Qur’an hadir sebagai penyembuh jiwa manusia. Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ Wa nunazzilu minal qur’āni mā huwa syifā’un wa raḥmatun lil mu’minīn. “Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Al-Isra’: 82)

Ayat ini mengajarkan bahwa Al-Qur’an menyembuhkan bukan hanya penyakit hati seperti iri, dengki, dan kesombongan, tetapi juga kegelisahan hidup manusia modern.

Ketika dunia terasa terlalu bising, ketika pikiran penuh oleh kecemasan, ketika manusia kehilangan arah, Al-Qur’an datang sebagai kompas spiritual. Surah Al-Isra’ akhirnya ditutup dengan kalimat yang sangat agung:

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا Wa qulil ḥamdu lillāhilladzī lam yattakhidz waladā… “Katakanlah: Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak.” (QS. Al-Isra’: 111)

Penutup ini mengingatkan bahwa tauhid adalah fondasi kehidupan manusia. Tanpa tauhid, manusia mudah tersesat oleh kekuasaan, harta, atau teknologi.

Baca Juga: Ketika Sabar Berbuah Cahaya: Ibrah Surah Yusuf di Pagi ke-10 Ramadhan

Di pagi Ramadan ini, Surah Al-Isra’ seakan mengajarkan satu pelajaran besar: perjalanan Isra Mikraj Nabi bukan hanya perjalanan fisik, tetapi perjalanan spiritual umat manusia menuju peradaban yang lebih tinggi.

Jika manusia ingin membangun dunia yang lebih baik, ia harus kembali kepada iman, ilmu, dan akhlak. Dan mungkin itulah sebabnya Al-Qur’an sering terasa sangat hidup di waktu Subuh.

Di saat dunia masih sunyi, ayat-ayatnya seperti berbicara langsung kepada hati kita: bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang hidup di bumi, tetapi juga musafir menuju langit.

Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar