Laporan Intelijen AS: Serangan Skala Besar Tak Akan Runtuhkan Kekuasaan Iran

Formasi jet tempur dan pesawat pengebom siluman milik militer Amerika Serikat terbang melintasi awan dalam sebuah misi operasi udara. (Dok. HO/Faktakalbar.id)
Formasi jet tempur dan pesawat pengebom siluman milik militer Amerika Serikat terbang melintasi awan dalam sebuah misi operasi udara. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, WASHINGTON – Serangan skala besar yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dinilai tidak akan mampu menggulingkan struktur kekuasaan militer dan ulama di negara tersebut, Senin (09/03/2026).

Baca Juga: Mojtaba Khamenei Anak Ali Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Hal ini terungkap dalam sebuah laporan rahasia Dewan Intelijen Nasional AS yang diberitakan oleh The Washington Post pada akhir pekan lalu.

Penilaian intelijen tersebut secara tegas mementahkan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengklaim bahwa ia dapat “membersihkan” kepemimpinan Iran dan menempatkan penerus pilihannya.

Laporan yang mengeksplorasi skenario potensial pada 7 Maret 2026 ini menunjukkan bahwa ambisi Trump jauh dari kepastian.

Dewan Intelijen Nasional, yang terdiri dari para analis senior yang mencerminkan konsensus dari 18 badan intelijen AS, menyimpulkan bahwa meskipun Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei terbunuh, kepemimpinan militer dan ulama negara itu kemungkinan besar akan mengikuti mekanisme suksesi yang telah ditetapkan untuk mempertahankan struktur kekuasaan yang ada.

Baca Juga: AS Setujui Penjualan Darurat 12 Ribu Bom ke Israel Senilai Rp2,57 Triliun

Mengutip tiga sumber anonim yang mengetahui temuan rahasia tersebut, The Washington Post juga melaporkan bahwa sangat kecil kemungkinannya bagi kelompok oposisi Iran yang saat ini terfragmentasi untuk dapat merebut kekuasaan.

Namun, mengutip laporan Anadolu Agency, dokumen intelijen tersebut tampaknya tidak mengevaluasi opsi potensial lainnya, seperti pengerahan pasukan darat AS di Iran atau langkah mempersenjatai kelompok Kurdi untuk memicu pemberontakan.

Masih belum jelas pula apakah skenario yang diteliti sepenuhnya sesuai dengan realitas operasi militer saat ini.

Ketegangan regional diketahui terus meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Operasi militer bersandi Operation Epic Fury (AS) dan Operation Lion’s Roar (Israel) ini dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Khamenei, lebih dari 150 siswi, dan sejumlah pejabat militer senior.

Sebagai balasan, Iran telah melancarkan serangan gencar yang menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh kawasan Timur Tengah, serta beberapa kota di Israel.

Baca Juga: Iran vs Israel-Amerika Saling Menghancurkan Kilang Minyak, Siap-siap BBM Naik

Berdasarkan pemantauan di berbagai media sosial buatan Barat, informasi mengenai keberhasilan serangan udara AS dan Israel lebih banyak terekspos dibandingkan dengan kesuksesan serangan balasan yang dilancarkan oleh Iran.

(FR)