Opini  

Iqra dan Kebangkitan Peradaban: Pelajaran Nuzulul Qur’an dari Masjid Al Muhtadin Kampus Untan

Ilustrasi - Refleksi Nuzululquran dari Masjid Al Muhtadin UNTAN tentang pentingnya pencerahan ilmu dan adab untuk membangun peradaban manusia yang bermartabat. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Refleksi Nuzululquran dari Masjid Al Muhtadin UNTAN tentang pentingnya pencerahan ilmu dan adab untuk membangun peradaban manusia yang bermartabat. (Dok. Ist)

Ramadhan sebagai Madrasah Peradaban

Ramadan seharusnya tidak hanya dipahami sebagai ritual menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah spiritual yang mengingatkan manusia untuk kembali kepada ilmu, akhlak, dan refleksi diri.

Membaca Alquran bukan hanya untuk mengejar pahala tilawah. Lebih dari itu, ia adalah upaya memahami pesan ilahi tentang ilmu, keadilan, dan kemanusiaan.

Dalam konteks ini, kampus memiliki peran yang sangat strategis. Universitas bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga ruang untuk membangun generasi berilmu, beradab, dan berani memperjuangkan kebenaran.

Baca Juga: Menjemput Malam Seribu Bulan dengan Hati yang Ikhlas, Refleksi Pengajian Subuh Ramadhan dari Surah Al-Qadr dan Al-Ikhlas

Menyalakan Kembali Cahaya Iqra

Jika jahiliah adalah simbol kegelapan karena kebodohan, maka ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan manusia. Ketika ilmu dipadukan dengan iman dan adab, ia tidak hanya membentuk individu yang cerdas, tetapi juga melahirkan peradaban yang lebih manusiawi.

Pesan Nuzululquran sesungguhnya sangat sederhana namun mendalam: perubahan besar selalu dimulai dari membaca, belajar, berpikir, dan memperbaiki diri.

Dan mungkin inilah pelajaran paling penting dari Ramadan: bahwa kebangkitan umat tidak dimulai dari kekuasaan atau kekayaan, tetapi dari satu kata yang turun di Gua Hira lebih dari 14 abad lalu, Iqra. Bacalah.

Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.