OPINI – Malam ke 17 Ramadan selalu menghadirkan satu ingatan besar dalam sejarah umat Islam: Nuzululquran, turunnya wahyu pertama kepada Muhammad. Peristiwa itu bukan sekadar momen spiritual, tetapi juga titik balik peradaban manusia.
Islam lahir di tengah masyarakat yang tenggelam dalam kegelapan moral dan intelektual yang dikenal sebagai zaman jahiliah.
Dalam pengajian buka puasa di Masjid Al Muhtadin Universitas Tanjungpura (UNTAN), Das’ad Latif mengajak jemaah untuk kembali memahami makna mendalam dari peristiwa tersebut. Menurut beliau, jahiliah bukan sekadar istilah sejarah.
Jahiliah adalah kondisi ketika kebodohan, keserakahan, kekerasan, dan ketidakadilan menjadi norma sosial. Perempuan tidak dihargai. Kekuasaan dan kekayaan menjadi ukuran kehormatan.
Tradisi yang merendahkan martabat manusia dianggap wajar. Dunia berada dalam kegelapan karena manusia kehilangan arah nilai dan ilmu.
Di tengah kondisi itulah Allah menurunkan wahyu pertama yang sangat sederhana tetapi revolusioner: membaca. Allah berfirman dalam Surah Al ‘Alaq ayat 1: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ Iqra’ bismi rabbika alladzī khalaq. Artinya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Perintah Iqra bukan sekadar membaca teks. Ia adalah seruan untuk membangun kesadaran, ilmu pengetahuan, dan peradaban. Islam memulai transformasi sosial bukan dengan pedang, tetapi dengan literasi dan pendidikan.
Karena itu, dalam perspektif Islam, jalan keluar dari kegelapan jahiliah bukanlah kekuasaan semata, tetapi pencerahan ilmu.
Filosofi Ilmu: ‘Ain, Lam, Mim
Dalam pengajiannya, Das’ad menjelaskan secara menarik makna kata ilmu yang tersusun dari tiga huruf Arab: ‘ain, lam, dan mim. Huruf pertama adalah ‘ain. Bentuknya terbuka, melambangkan keterbukaan pikiran.
Orang yang benar benar berilmu tidak alergi terhadap kritik. Ia tidak takut dikoreksi, tidak merasa paling benar, dan tidak menutup diri dari pandangan orang lain.
Dalam konteks kehidupan modern, pesan ini menjadi sangat relevan. Kritik bukanlah permusuhan. Mahasiswa yang menyampaikan aspirasi tidak boleh dianggap musuh kampus.
Rakyat yang mengkritik pejabat bukan berarti membenci negara. Ulama dan intelektual yang bersuara kritis justru menunjukkan kepedulian terhadap masa depan masyarakat.
Huruf kedua adalah lam, yang menjulang ke atas. Filosofinya adalah ilmu mengangkat derajat manusia.
Allah menegaskan hal ini dalam Surah Al Mujadilah ayat 11: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ Yarfa‘illāhulladzīna āmanū minkum walladzīna ūtul ‘ilma darajāt. Artinya: “Allah akan meninggikan derajat orang orang yang beriman di antara kamu dan orang orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Ilmu memiliki kekuatan yang luar biasa: mengubah nasib manusia. Banyak orang lahir dari keterbatasan ekonomi, tetapi dengan ilmu mereka mampu mengangkat martabat diri, keluarga, bahkan masyarakatnya.
Das’ad mencontohkan perjalanan hidupnya sendiri. Masa kecil yang sederhana, berjalan kaki ke sekolah, hidup dengan keterbatasan, semua itu tidak menghalangi tekadnya untuk belajar.
Dari pendidikan S1 hingga S3, ilmu akhirnya menjadi tangga yang mengangkat derajat kehidupannya.
Huruf ketiga adalah mim, yang melengkung ke bawah. Ia melambangkan kerendahan hati. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya. Inilah keseimbangan dalam tradisi intelektual Islam.
Ilmu yang benar tidak melahirkan kesombongan, tetapi justru kesadaran akan keterbatasan diri.
Ilmu Lebih Berharga daripada Harta
Dalam pengajian tersebut, Das’ad juga mengutip hikmah dari Ali bin Abi Thalib, salah satu dari Khulafaur Rasyidin. Ketika ditanya mana yang lebih utama antara ilmu dan harta, beliau memilih ilmu.
Mengapa? Karena harta harus dijaga, sedangkan ilmu justru menjaga pemiliknya. Harta akan berkurang jika dibagikan, tetapi ilmu justru bertambah ketika diajarkan. Di sinilah muncul konsep sedekah ilmu.
Dosen yang mengajar, guru yang mendidik, mahasiswa yang berbagi pengetahuan, semuanya sedang menanam amal jariah.
Muhammad bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa ilmu memiliki dimensi keabadian pahala.
Ilmu, Amal, dan Adab
Namun pengajian ini juga mengingatkan satu hal penting: ilmu saja tidak cukup. Dalam tradisi ulama, terdapat tiga tahapan yang harus berjalan bersama: ilmu → amal → adab.
Ilmu tanpa amal hanya menjadi pengetahuan kosong. Amal tanpa adab bisa berubah menjadi kesombongan. Tetapi ketika ilmu diamalkan dengan adab, ia akan melahirkan peradaban yang bermartabat.
Sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam pernah menjadi pusat ilmu dunia. Para ilmuwan Muslim mengembangkan matematika, kedokteran, astronomi, dan filsafat. Semua itu bermula dari satu kata yang turun pada malam Nuzululquran: Iqra.
















