“Pemerintahan Trump telah berulang kali menegaskan bahwa mereka sepenuhnya siap untuk perang ini,” kata Meeks.
“Terburu-buru untuk menggunakan wewenang darurat untuk menghindari Kongres adalah hal yang berbeda. Ini adalah keadaan darurat yang diciptakan sendiri oleh pemerintahan Trump,” tandasnya.
Di hari yang sama dengan persetujuan tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan melalui media sosialnya bahwa perusahaan-perusahaan pertahanan utama AS telah sepakat untuk melipatgandakan produksi senjata canggih.
Pernyataan ini muncul sepekan setelah AS dan Israel melancarkan serangan pertamanya terhadap Iran.
Sebagai informasi, bom BLU-110A/B berbobot 1.000 pon (450 kg) merupakan varian dari keluarga bom seri Mark 83.
Bom yang diperkirakan berharga 12.650 dolar AS (sekitar Rp214 juta) per unit ini menggunakan bahan peledak yang lebih stabil dan umumnya digunakan sebagai hulu ledak untuk bom pintar berpemandu laser dan GPS, seperti GBU-16 Paveway II dan GBU-32 JDAM.
(FR)
















