Kepala Tim Robotika OpenAI Mundur Imbas Kesepakatan Kontroversial dengan Pentagon

Ilustrasi: Tampilan logo ChatGPT milik OpenAI. Pengadilan Jerman memutuskan ChatGPT melanggar hak cipta karena menggunakan lirik lagu musisi tanpa izin untuk melatih AI.
Ilustrasi: Tampilan logo ChatGPT milik OpenAI. Pengadilan Jerman memutuskan ChatGPT melanggar hak cipta karena menggunakan lirik lagu musisi tanpa izin untuk melatih AI. (Dok. Ist)

“Untuk memperjelas, masalah saya adalah pengumuman ini dibuat terburu-buru tanpa adanya batasan yang jelas. Ini merupakan persoalan tata kelola yang utama. Kesepakatan atau pengumuman ini ini terlalu penting untuk dilakukan terburu-buru,” katanya.

Pihak OpenAI telah mengonfirmasi pengunduran diri Kepala Tim Robotika OpenAI tersebut. Dalam pernyataan resminya, perusahaan berdalih bahwa kemitraan dengan Pentagon justru membuka jalan bagi penerapan kecerdasan buatan (AI) yang aman di sektor militer.

“Kami percaya kesepakatan kami dengan Pentagon menciptakan jalur yang layak untuk penggunaan AI yang bertanggung jawab dalam keamanan nasional sambil memperjelas batasan kami: tidak ada pengawasan domestik dan tidak ada senjata otonom,” kata perusahaan.

OpenAI juga menyatakan komitmennya untuk terus berdiskusi dengan karyawan, pemerintah, masyarakat sipil, dan komunitas global terkait masalah ini.

Kesepakatan OpenAI dan Pentagon diumumkan lebih dari sepekan lalu, tepat setelah diskusi antara Pentagon dan perusahaan AI pesaing, Anthropic, menemui jalan buntu.

Baca Juga: Fitur Baru ChatGPT Images Bisa Bikin Gambar Lebih Cepat

Kegagalan tersebut terjadi karena Anthropic menuntut perlindungan ketat guna mencegah teknologinya dipakai untuk pengawasan domestik massal dan senjata otonom.

Akibat penolakan tersebut, Pentagon menetapkan Anthropic sebagai risiko rantai pasokan, yang berujung pada rencana gugatan hukum dari pihak Anthropic.

Memanfaatkan momentum tersebut, OpenAI segera mengumumkan kontrak yang mengizinkan teknologinya digunakan di lingkungan rahasia pemerintah.

Para eksekutif OpenAI mengklaim menggunakan “pendekatan yang lebih luas dan berlapis-lapis” yang memadukan bahasa kontrak dan pengamanan teknis.

Namun, langkah ini menuai kecaman luas, merusak reputasi perusahaan di mata konsumen, dan memicu lonjakan masif penghapusan aplikasi ChatGPT.

(*Red)