Faktakalbar.id, SRI LANKA – Sedikitnya 80 pelaut tewas setelah sebuah kapal selam Amerika Serikat (AS) menyerang kapal milik Iran di perairan lepas pantai Sri Lanka, Kamis (5/3/2026).
Serangan mematikan ini menandai pertama kalinya sebuah kapal selam berhasil menghancurkan kapal angkatan laut dalam situasi perang selama beberapa dekade terakhir.
Militer Sri Lanka melaporkan bahwa tim penyelamat berhasil mengevakuasi setidaknya 30 orang, sementara 101 pelaut lainnya masih dinyatakan hilang dan 78 orang mengalami luka-luka.
Perwira tinggi Pentagon, Jenderal Dan Caine, mengonfirmasi taktik serangan tersebut. Ia menyebutkan bahwa “sebuah kapal selam serang cepat telah menggunakan satu torpedo untuk menghantam kapal tersebut.”
Baca Juga: AS Luncurkan Operation Epic Fury ke Iran, Pete Hegseth: Kami Akan Selesaikan Konflik Ini
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa pihak militer Iran salah perhitungan terkait posisi keamanan armada mereka.
Kapal perang Iran tersebut “mengira aman di perairan internasional. Sebaliknya, kapal itu ditenggelamkan oleh torpedo,” tegas Hegseth.
Terkait respons di lokasi kejadian, Wakil Menteri Luar Negeri Sri Lanka menyatakan bahwa kapal nahas itu sedang dalam perjalanan kembali dari wilayah timur India.
Kapal tersebut sempat mengirimkan panggilan darurat (distress call) saat berada di lepas pantai Galle, bagian selatan negara kepulauan itu.
Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, kepada parlemen mengonfirmasi bahwa para korban luka telah dievakuasi dan dirawat di rumah sakit setempat.
Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Buddhika Sampath, menjelaskan bahwa operasi penyelamatan yang dilakukan merupakan bentuk kepatuhan terhadap kewajiban maritim internasional, meskipun insiden itu terjadi di luar perairan teritorial mereka.
Namun, ia mencatat bahwa kapal penyelamat yang tiba di lokasi kejadian tidak lagi menemukan wujud fisik kapal Iran tersebut, melainkan hanya sisa tumpahan minyak di permukaan laut.
Baca Juga: Operasi Epic Fury: Persenjataan Rudal Iran Jadi Penentu Konfrontasi Regional
Insiden penenggelaman ini terjadi di tengah memanasnya perang regional antara AS, Israel, dan Iran.
Konflik ini meletus setelah serangkaian serangan terkoordinasi diluncurkan ke wilayah Iran pada Sabtu pekan sebelumnya.
Hingga kini, operasi gabungan bersandi Operation Epic Fury oleh AS dan Operation Roaring Lion oleh Israel tersebut telah memasuki hari kelima, dengan menargetkan ratusan situs militer dan kepemimpinan rezim Iran.
(FR)












